Quartararo: Dulu Dihina Sekarang Dipuja!

1

RiderTua.com – Bakat luar biasa Fabio ‘El Diablo’ Quartararo sudah terlihat di usia yang masih sangat belia. Tetapi di awal Kejuaraan Dunia Moto3 dia mengalami kesulitan, dan di Kejuaraan Dunia Moto2 dia hanya mampu memenangkan satu balapan reguler. Itu sebabnya tim baru Petronas Yamaha mengawali musim 2019 dengan ekspektasi rendah. Bahkan beberapa wartawan mengatakan bahwa Quartararo tidak pantas mendapatkan promosi ke kelas MotoGP. Fabio tidak disukai oleh bos tim Emilio Alzamora. Dengan tim Honda Estrella Galicia, 0.0 dia tidak bisa maksimal, padahal tim ini adalah tempat Alex Rins dan Alex Marquez belajar di MotoGP. Jebolan Kejuaraan Repsol-Moto3 CEV ini memang mendominasi di Eropa. Saat Fabio turun di kejuaraan dunia Moto2 dan Moto3 banyak alami ‘ketidak adilan’. Banyak hal yang membuatnya terhambat, namun kini banyak yang menyebutnya “Marquez-nya Yamaha” karena gaya balapnya khusus..

Quartararo: Dulu Dihina Sekarang Dipuja

Fabio tidak disukai oleh bos tim Emilio Alzamora. Dengan tim Honda Estrella Galicia, 0.0 dia tidak bisa maksimal, padahal tim ini adalah tempat Alex Rins dan Alex Marquez belajar di MotoGP.

Ketika seri Moto3 GP Le Mans 2015 Fabio keluhkan mesinnya tidak sekuat rekan setimnya Navarro, dia tidak disukai oleh Alzamora. Hubungan dengan bos tim hancur tak ada harapan, yang membuat Quartararo kesulitan. Ada juga patah pergelangan kaki di Misano, Fabio harus menyerah di beberapa balapan, musim itu tidak seperti yang diinginkan. Meskipun dia menjadi sorotan di Assen dan Indianapolis dengan podium 2 dan peringkat 10 dunia di tahun pertamanya. Tahun keduannya (2016) di Moto3? hanya 4 besar dan peringkat 13 dunia.

Kini Fabio Quartararo sudah dibandingkan dengan talenta-talenta terhebat dalam 40 atau 50 tahun terakhir. Karena dia menghantam Kejuaraan Dunia MotoGP bak tornado. Dia tampak santai dan dewasa, dia berada di garis depan di setiap sesi, dia hampir tidak pernah jatuh, dia tahu bagaimana menghadapi tekanan.

Hari ini kita tahu, pada tahun 2015 Quartararo disebut-sebut sebagai ‘the new Marc Marquez’. Ayahnya Etienne, melakukan banyak hal dengan benar dalam membangun karir putranya. Misalnya, dia tidak bergantung pada dukungan dari asosiasi Prancis FFM, melainkan mempromosikan ke balapan junior Spanyol pada usia 7 tahun. Di mana dia bermain dan mendominasi semua seri junior. Ayah Quartararo sendiri adalah juara Prancis 125 cc. Dengan motor Morbidelli pada tahun 1981, dia memiliki pengetahuan dasar yang berguna.

Setelah kesulitan dengan tim Moto2 Leopard racing, tahun 2017 Quartararo diambil tim Moto2 Sito Pons. Ada pembicaraan tentang kontrak tiga tahun untuk Kejuaraan Dunia Moto2. Di tim Moto2 Sito Pons juga alami hal serupa… “tersia-sia”. Quartararo mengeluh karena harus membalap dengan sasis yang bengkok. Pons yang hemat tidak memiliki cukup sponsor pada waktu itu. Sponsor utama dari Spanyol, pastinya lebih memilih pembalap Spanyol. Bahkan kepala kru yang terkenal, Santi Mulero tidak bisa fokus pada Fabio Quartararo secara maksimal.

Petronas Menolongnya

Akhirnya Quartararo dilirik tim Yamaha satelit Petronas. Pada usia 20, Quartararo telah memperoleh banyak kedewasaan, bakat balapanya luar biasa, tidak pernah dipertanyakan. Dia terlihat ramah, tidak ribet, di usia 20 tahun terlihat sangat dewasa. Dan sekarang bocah ajaib dari Perancis itu mereka sebut “Fast Fabio” ada pula yang memanggilnya “El Diablo”, menyebabkan kegemparan di paddock dengan Yamaha M1 terbaru 2019.

Razlan Razali, bos tim di Petronas Yamaha, terpesona oleh performa El Diablo. “Bocah ini spesial… Di usia 20 tahun, pembalap baru di MotoGP, tapi dia sudah memberi kita tiga posisi pole dan dua podium berturut-turut,” kata Razali gembira setelah GP Assen tahun 2019.

1 COMMENT

Leave a Reply