RiderTua.com – Alex Barros mengaku tak menduga Aprilia bakalan mendominasi awal musim 2026 dan bahkan mampu mempecundangi Ducati. “Kejutan terbesar di awal musim adalah Aprilia. Saya tidak menyangka mereka akan memiliki keunggulan teknis sebesar itu pada beberapa balapan pertama. Tentu saja, saya tahu betul pada akhirnya Ducati akan memangkas gap tersebut. Namun hal itu memberi Aprilia kesempatan selama 3 atau 4 balapan untuk mengumpulkan poin sebanyak mungkin, sebelum para kompetitor mengejar ketertinggalan teknis tersebut,” ujar mantan pembalap asal Brasil itu.
Barros menambahkan, “Bahkan mungkin mereka sendiri juga terkejut dengan hal itu. Menurut saya mereka tidak memiliki margin keunggulan yang tidak bisa dibilang sangat nyaman, tetapi cukup untuk menciptakan rangkaian hasil apik di awal musim. Kami tahu Ducati bisa mengejar ketertinggalan dan memang itulah yang terjadi. Mereka terus berusaha keras untuk mengejar ketertinggalan teknis yang tipis itu.”
Alex Barros: Dengan Cara Membalap Seperti Sekarang, Marc Marquez Tidak akan Bisa Mengalahkan Pedro Acosta

Alex Barros yakin keunggulan Aprilia tersebut diuntungkan karena kondisi fisik Marc Marquez. “Marc Marquez bernasib sial di awal musim. Tapi hal seperti itu bisa saja terjadi, begitulah hidup dan kita harus beradaptasi dengan keadaan. Namun Marco Bezzecchi sangat cerdas memanfaatkan situasi dengan membangun keunggulan poin. Setelah itu situasi mulai berubah. Jorge Martin mulai meraih hasil bagus, sehingga memberikan tekanan yang lebih besar kepada Bezzecchi,” jelas mantan pembalap berusia 55 tahun itu.
Barros melanjutkan, “Menurut saya, kesialan Marquez seolah pindah ke Bezzecchi. Situasinya seperti berbalih arah. Tapi begitulah dinamika balapan, hal-hal seperti ini memang bisa terjadi.”
Barros menegaskan bahwa perubahan situasi seperti itu lumrah terjadi dalam dunia balap motor. “Saya sendiri pernah mengalaminya. Seorang pembalap unggul 80 atau 90 poin di pertengahan musim, tapi kemudian nasib buruk menimpa di paruh kedua hingga akhirnya kehilangan gelar dunia. Padahal sebelumnya semua orang mengira keunggulan itu aman dan tidak mungkin kalah, lalu tiba-tiba hal itu terjadi. Balapan selalu penuh kejutan. Siapa pun yang berkecimpung dalam olahraga ini tahu bahwa segalanya bisa berubah dalam sekejap,” ujarnya.

Soalย Pedro Acosta, Barros mengatakan, “Pedro Acosta menjalani musim yang luar biasa. Memang dia belum berhasil memenangkan balapan, namun hal itu jelas disebabkan oleh masalah teknis pada motornya. Kalau dia mengendarai Aprilia atau Ducati, kita yakin dia bisa saja bersaing memperebutkan juara dunia tahun ini.”
Barros juga memuji Marc Marquez yang menjadi panutan sebagai pembalap yang mampu keluar dari masa-masa sulit. “Lihat saja bagaimana Marquez menghadapi semua ini. Dia adalah seorang juara dunia yang sedang bangkit, setelah mengalami crash yang sangat serius di akhir musim lalu. Saya sendiri hingga hari ini masih merasakan sakit pada bahu, padahal sudah menjalani operasi pada kedua bahu saya. Saya benar-benar kesulitan karenanya. Saya sangat paham bagaimana rasanya mengalami cedera bahu. Butuh waktu 1 tahun penuh agar bahu bisa pulih 100 persen,” ungkapnya.
Barros yakin sebenarnya Marquez belum pulih sepenuhnya. “Menurut saya, Marquez belum pulih 100 persen. Sederhananya, dia memenangkan balapan dengan ‘satu setengah lengan’. Tentu bukan secara harfiah, tetapi dia masih menghadapi banyak kesulitan dengan kondisi fisiknya,” tegasnya.

Barros menambahkan, “Marquez adalah contoh seorang atlet yang selalu mampu bangkit dari masa-masa tersulitnya. Ini bukan kali pertama dia melakukannya. Kisahnya seperti film Rocky Balboa. Tidak peduli seberapa keras hidup menjatuhkanmu, yang terpenting kamu harus selalu bangkit dan terus berjuang. Saya yakin Marquez akan kembali menjadi juara dunia. Tapi kita tidak bisa meremehkan Martin, Bezzecchi, ataupun Pedro sendiri.”
Pada bulan Juni yang lalu, Ducati secara resmi mengumumkan perpanjangan kontrak Marc Marquez berdurasi 2 tahun atau mulai 2027 hingga akhir 2028. Barros mengaku kaget dengan hal itu. “Saya kaget ketika kontraknya diperpanjang 2 tahun. Menurut pendapat pribadi saya, itu belum tentu benar. Saya rasa pasti ada klausul dalam kontrak yang memungkinkannya untuk berhenti balapan kapan saja, jika dia merasa tidak yakin dengan kondisi fisiknya,” ujarnya.
Menurut Barros, cedera memaksa Marquez untuk mengubah total caranya membalap. “Situasi yang dia alami sangatlah sulit. Bagi seorang pembalap, mengetahui bahwa kita sebenarnya mampu melaju kencang namun tubuh tidak mengizinkan kita melakukan apa yang kita inginkan adalah hal yang sangat bikin frustrasi. Kita tahu bisa melaju lebih cepat, tetapi tidak bisa karena ada sesuatu yang menghambat. Masalahnya bukan kurangnya pengetahuan teknis, melainkan tubuh yang membatasi pergerakan kita,” ungkapnya.

Barros melanjutkan, “Lihatlah crash yang dia alami di Le Mans Prancis yang disebabkan oleh masalah pada bahunya. Bahunya memang tidak cukup kuat. Hal-hal seperti itu bisa saja terjadi. Dia sadar bahwa setiap kali mengambil risiko maka konsekuensinya sangat besar. Sekarang dia pandai mengatur balapan, karena dia tidak bisa lagi melakukan semua yang dia inginkan. Jadi, dia hanya melakukan apa yang masih mungkin dilakukan oleh tubuhnya. Dengan cara itu, dia justru sukses meraih kemenangan.”
“Tahun lalu dia sudah mulai mengatur balapan dengan lebih cermat. Semua yang telah dia lalui selama 4 tahun terakhir adalah masa-masa yang sangat berat dan menyiksa. Dia benar-benar telah mengubah sikapnya terhadap pengambilan risiko yang tidak perlu,” imbuhnya.
Tahun depan Pedro Acosta akan menjadi rekan setimnya di tim pabrikan Ducati Lenovo. Menurut Barros, Marquez akan cukup kesulitan menghadapi pembalap berusia 22 tahun itu dengan motor yang sama. “Dengan cara membalap seperti saat ini, saya rasa tidak akan cukup untuk mengalahkan Pedro. Dia harus berani mengambil lebih banyak risiko, karena Pedro sangat haus akan kemenangan. Pedro itu seperti Marquez saat berusia 20 tahunan. Untuk bisa mengimbanginya tahun depan, Marquez harus mengambil risiko besar. Dia harus benar-benar gas pol hingga batas maksimal,” ujarnya.

“Satu kelebihan Marquez yang tidak dimiliki Pedro adalah pengalaman serta ketangguhan mentalnya yang sangat luar biasa. Dia tidak pernah membiarkan apa pun mematahkan semangatnya. Marquez tidak membiarkan apa pun mengalahkannya. Namun Pedro sangat ambisius. Dia akan menjadi pesaing yang sangat tangguh tahun depan,” pungkas Alex Barros.













Acosta perlu membuktikan dulu kemampuannya, sebelum mengalahkan Marc minimal pecah telur dulu dengan memenangkan juara seri