Home MotoGP Ricard Jove: Seharusnya Maverick Vinales Merekam Pembicaraannya dengan KTM

    Ricard Jove: Seharusnya Maverick Vinales Merekam Pembicaraannya dengan KTM

    Maverick Vinales

    RiderTua.com – Ricard Jove membahas situasi panas buntut dari perselisihan Maverick Vinales vs KTM yang terjadi belakangan ini. Dia mengkritik rider berjuluk Top Gun itu, namun dia menegaskan bahwa kritik yang dilontarkannya bersifat membangun, bukan untuk menjatuhkannya. Hal ini dia sampaikan karena dia mengakui bakat luar biasa yang dimiliki rider berusia 30 tahun itu.

    “Saya pernah mengkritiknya, tapi kritikan saya bersifat membangun. Tak diragukan lagi dia memiliki bakat yang luar biasa. Hanya saja, entah kenapa semuanya tidak berjalan dengan baik atau mungkin bakat itu tidak dimanfaatkan dengan maksimal. Saya tidak tahu persis penyebabnya. Tapi bagi saya, kritik ini tidak bersifat menjatuhkan. Namun, saya tidak akan mengungkap dimana letak kesalahannya,” ungkap Jove.

    Informasi resmi jadwal pameran, tiket, daftar lengkap peserta dapat diakses melalui situs resmi GIIAS disini 👇 Official Media Partner GIIAS 2026 - Ridertua
    Daftar Isi

    Ricard Jove: Seharusnya Maverick Vinales Merekam Pembicaraannya dengan KTM

    Ricard Jove
    Ricard Jove

    Ricard Jove teringat bahwa Maverick Vinales pernah membuat keputusan yang kurang tepat, yakni ketika dia terburu-buru memperpanjang kontrak dengan Yamaha untuk 2 tahun lagi padahal musim saja belum dimulai.

    Jove mengatakan, “Saya lupa tahun berapa, mungkin 2018. Di mana musim saja belum dimulai dan belum tahu bagaimana jalannya musim nanti, tapi sebulan sebelum peluncuran tim dia sudah menandatangani kontrak baru untuk 2 tahun lagi dengan Yamaha. Saya langsung berpikir, ‘loh musim saja belum mulai, kamu belum tahu apa yang akan terjadi’. Dan benar saja, bahkan dia tidak menyelesaikan kontrak 2 tahun itu. Jadi, keputusan yang dibuat dalam keadaan emosi, tetaplah sebuah kesalahan. Dan Maverick sudah berulang kali membuat keputusan gegabah.”

    Jove menyoroti karakter Vinales. “Meskipun sudah berusaha diperbaiki selama bertahun-tahun, pada akhirnya seseorang akan kembali menunjukkan sifat aslinya. Kalau memang dasarnya mudah cemas, sifat itu akan muncul kembali. Salah satu hal yang membuat Maverick menjadi seperti sekarang ini adalah, karena dia sangat cepat kehilangan kepercayaan begitu keadaan tidak berjalan baik,” ungkapnya.

    Maverick Vinales
    Maverick Vinales

    Jove melanjutkan, “Rasa curiga bisa muncul kepada teknisinya, mekanik yang dianggapnya bersikap dingin, dan manajernya yang tidak mengatakan apa yang ingin didengarnya. Dan saya bisa mengatakan hal ini karena saya pernah mengalaminya. Tetapi setelah mengatakan hal itu, saya merasa terlalu lancang untuk menghakimi seseorang. Saya sendiri sibuk menginstropeksi hidup saya sendiri dan semua kesalahan yang pernah saya buat kepada orang lain.”

    Apakah menurut perkiraan Jove, Maverick sudah punya tim untuk 2027? “Saya rasa belum. Dan kalau ternyata saya salah, saya justru senang. Tetapi pernyataan-pernyataan terakhirnya jelas menunjukkan bahwa dia sedang meluapkan rasa frustrasinya. Dan selain itu, dia mungkin benar,” jawabnya.

    Selanjutnya Jove gantian mengkritik KTM. “Sekarang saya akan mengkritik KTM. Di KTM, ada banyak kasus dan saya tidak akan menyebutkannya, tentang bagaimana manajemen KTM benar-benar kacau. Kita semua tahu kasus-kasus tersebut dan bagaimana kontrak-kontrak KTM yang sangat mengikat telah menimbulkan masalah bagi banyak pembalap,” jelasnya.

    Jove mengungkap bahwa Vinales pernah bercerita kepadanya bahwa selama KTM mengalami krisis keuangan hingga sebagian besar kepemilikan dijual ke Bajaj, banyak orang mulai kehilangan kepercayaan pada proyek MotoGP KTM. Menurutnya, Vinales justru bersikap sebaliknya dan berusaha tetap loyal pada proyek mereka. Dia selalu menunjukkan kepercayaannya pada proyek KTM dan ingin terus membantu mereka berkembang.

    Maverick Vinales 2
    Maverick Vinales

    Jove juga mengaku bahwa Vinales mendapat sinyal positif dari KTM untuk memperkuat tim pabrikan pada 2027. “Menurutnya dan saya percaya padanya, dia selalu menerima umpan balik positif bahwa KTM masih mengandalkannya dan bahwa dia akan berada di tim pabrikan. Dia berbicara soal ini kepada saya beberapa bulan yang lalu,” jelasnya.

    Namun sayangnya, cedera bahu membuat hasil balapan menjadi tidak memuaskan dan situasinya berubah drastis. “Saat itulah kepanikan mulai muncul. Dan disinilah saya melihat dengan sangat jelas bahwa cara manajemen KTM dalam mengelola pembalap selalu berakhir buruk. Menurutku, kasus Vinales hanya satu contoh lagi,” tegas Jove.

    Menurut Jove, ada satu jalan yang bisa dilakukan jika diperlakukan buruk oleh pihak lain. “Menurutku, kadang-kadang semua percakapan seperti ini harus direkam. Supaya nantinya bisa dibuktikan bahwa ‘anda memang menjanjikan ini dan itu atau mengatakan hal lain’. Saya yakin Vinales merasa dikhianati. Pernyataan-pernyataan yang dilontarkannya belakangan ini, terdengar seperti orang yang sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dipertahankan,” ujarnya.

    Jove melanjutkan, “Ini seperti ungkapan dalam bahasa Spanyol ‘De perdidos al rio’ yang artinya kira-kira ‘kalau sudah terlanjur begini, sekalian saja atau tidak ada lagi yang perlu ditakutkan lagi’. Kalau dia masih punya peluang untuk bertahan, pasti dia tidak akan berkomentar seperti itu. Dan setelah mengatakannya, peluangnya justru semakin kecil atau bahkan tidak ada lagi.”

    Terkait pembalap yang berpotensi menggantikan Vinales di tim Tech3, Jove mengatakan, “Saya rasa Senna Agius akan mendapat kursi itu, meskipun nama Manu Gonzalez masih disebut-sebut juga sebagai kandidat. Semoga saja.”

    Manuel Gonzales - Senna Agius
    Manuel Gonzales – Senna Agius

    Menurut Jove, kecil kemungkinannya tim Tech3 merekrut 2 rookie sekaligus. “Jujur, menurutku mereka tidak akan mengisi kedua kursi dengan 2 rookie. Kalau Senna, kita semua tahu bahwa dia memang pantas mendapatkan kesempatan. Ini bukan karena dia pembalap Australia, tapi karena memang benar-benar layak. Tapi saya akan sangat terkejut jika ada dua pembalap rookie di sana,” tegasnya.

    Karena alasan itulah, menurut Jove, Luca Marini punya peluang untuk bergabung di tim Tech3. “Itulah sebabnya Marini punya peluang. Mungkin mereka akan menyelamatkan seorang pembalap yang secara teoritis akan kehilangan tempatnya di MotoGP. Ini bagian dari hidup. Kita semua memulai karir dan pada akhirnya suatu hari nanti pasti akan mengakhirinya. Dan saya rasa, ada beberapa pembalap muda yang memang pantas diberi kesempatan dan ada beberapa pembalap di Moto2 yang punya prospek bagus kedepannya,” jelasnya.

    Jove juga berkomentar soal pasar pembalap MotoGP. Dia yakin Tim Trackhouse akan diperkuat Enea Bastianini dan Raul Fernandez. Jadi kursi yang masih kosong hanya tinggal tim Tech3. Sementara Diogo Moreira diperkirakan akan dipromosikan ke tim pabrikan Honda. Dan David Alonso yang baru saja diumumkan bergabung dengan Honda tahun depan, akan berada di tim LCR bersama Johann Zarco. “Siapa pun yang mengikuti up-date dari saya pasti tahu bahwa berbulan-bulan yang lalu saya sudah mengatakan hal ini. Jadi, saya tidak asal ikut-ikutan dalam hal ini,” ujar Jove.

    Saat ini Zarco sedang berjuang untuk pulih dari cedera usai carsh di Catalunya. Apakah ada kemungkinan rider asal Prancis itu akan pensiun? “Menurutku, yang paling masuk akal adalah David Alonso bergabung dengan LCR bersama Zarco. Saya harap begitu. Mereka juga harus membantah bahwa Zarco tidak akan kembali. Saya rasa sampai pembalap itu mengatakannya sendiri, kita harus sedikit menghormatinya,” jawab Jove.

    Marc Marquez Juara Dunia MotoGP 2025
    Marc Marquez

    Marc Marquez Jangan Pensiun Donk!

    Ricard Jove mengaitkannya dengan Marc Marquez. “Ini seperti yang menimpa Marc. Saya sudah berulang kali mengatakan bahwa biarkan dia pensiun kapan pun dia mau. Sebaiknya orang lain diam saja dan menikmati penampilannya selagi performanya masih bagus, itu saja. Kalau saatnya nanti dia harus pensiun, ya pensiun saja? Yang pasti, kita semua akan merindukannya,” imbuhnya.

    “Ini seperti Novak Djokovic yang masih mampu bertarung di Wimbledon pada usia 39 tahun, melawan petenis-petenis muda yang berusia sekitar 20-an tahun. Saya harap dia tidak pernah pensiun. Sama seperti, saat dulu saya tidak ingin Nadal pensiun. Saya memakai contoh tenis karena itu olahraga favorit saya, meskipun saya hanya seorang penggemar dan tidak tahu banyak tentangnya.”

    “Itu berfungsi sebagai tolok ukur bagi saya sebagai penggemar balap motor. Marc seharusnya tidak pernah pensiun. Tolong jangan paksa dia pensiun. Selagi dia masih kompetitif, mengapa harus pensiun? Dia bisa pensiun kapan pun dia mau. Itulah pendapat saya,” pungkas Ricard Jove.

    Marc Marquez
    Marc Marquez

    Saat ini Marc Marquez berusia 33 tahun itu, usia yang sudah berada di ambang akhir karir sebagai pembalap full time. Berapa tahun lagi dia akan membalap di MotoGP? Apakah akan melampaui usia pensiun dari rival ‘bebuyutan’nya Valentino Rossi yang mencapai 42 tahun? Hanya Tuhan yang tahu!

    © ridertua.com

    Informasi resmi jadwal pameran, tiket, daftar lengkap peserta dapat diakses melalui situs resmi GIIAS disini 👇 Official Media Partner GIIAS 2026 - Ridertua

    TINGGALKAN BALASAN

    Silakan masukkan komentar Anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini