Home MotoGP Fabio Di Giannantonio: Helm Saya yang Hilang Selama Bertahun-tahun Ketemu Berkat Instagram

    Fabio Di Giannantonio: Helm Saya yang Hilang Selama Bertahun-tahun Ketemu Berkat Instagram

    Fabio Di Giannantonio
    Fabio Di Giannantonio

    RiderTua.com – Meski saat ini Fabio Di Giannantonio turun ke peringkat 5 dalam klasemen usai crash di GP Jerman di Sachsenring, namun dia masih sangat optimis mampu bertarung memperebutkan gelar dunia musim ini.

    “Kalau saya bilang bahwa saya tidak ingin menjadi juara dunia, ibu dan ayah saya di rumah akan memarahi saya dan tim akan mengusir saya. Saya tidak akan berada di sini. Semua pilihan, aktivitas dan komitmen yang saya jalani selalu didasarkan pada satu tujuan yakni menjadi juara dunia,” ujar rider tim VR46 Ducati itu sambil tersenyum.

    Informasi resmi jadwal pameran, tiket, daftar lengkap peserta dapat diakses melalui situs resmi GIIAS disini 👇 Official Media Partner GIIAS 2026 - Ridertua

    Fabio Di Giannantonio: Helm Saya yang Hilang Selama Bertahun-tahun Ketemu Berkat Instagram

    Fabio Di Giannantonio 1
    Fabio Di Giannantonio

    Fabio Di Giannantonio mengawali karirnya di kejuaraan dunia pada 2015 di kelas Moto3 bersama tim Gresini Honda dan sukses menjadi runner-up pada 2018. Diggia lalu naik ke kelas Moto2 bersama tim Speed Up. Karena selama 2 tahun (2019-2020) gagal moncer, rider asal Roma Italia itu memutuskan kembali ke tim Gresini pada 2021.

    Setahun kemudian atau pada 2022, Diggia dipromosikan naik ke MotoGP tetap bersama tim Gresini Ducati. Sayangnya, dalam 2 tahun dia gagal berkembang. Karirnya di MotoGP sempat berada di ujung tanduk karena saat itu tidak ada yang mau menerimanya meski dia meraih kemenangan di GP Qatar pada 2023. Di detik-detik terakhir sebelum pasar pembalap ditutup, akhirnya tim VR46 Racing menyelamatkan karir MotoGP-nya dengan merekrutnya untuk 2024. Dan 2026 merupakan musim ke-3nya bersama tim milik legenda MotoGP Valentino Rossi itu.

    Diggia mengakui bahwa awal bergabung dengan tim VR46 sangatlah tidak mudah baginya. “Kami belum pernah bersinggungan sebelumnya. Akademi VR46 selalu menjadi semacam rival bagi saya. Awalnya terasa aneh. Bahkan saat ngobrol kami menggunakan bahasa yang sangat formal. Tapi kemudian kami langsung cocok dan semuanya berjalan dengan lebih natural, seolah kami memang ditakdirkan untuk bekerja sama,” jelasnya.

    Rider berusia 27 tahun itu menambahkan, “Saya menemukan orang-orang yang luar biasa. Saya menjadi dekat dengan setiap anggota tim. Kami telah membangun hal-hal yang menakjubkan. Saya rasa, ini adalah situasi terbaik yang pernah saya alami sepanjang karir saya.”

    Fabio Di Giannantonio
    Fabio Di Giannantonio

    Diggia juga mengungkapkan peran besar Rossi pada perkembangannya sebagai pembalap. “Yang paling saya pelajari dari Vale adalah dia selalu berkendara dengan teknik yang sangat murni, bersih, dan efisien. Di sisi lain, saya selalu berkendara dengan mengandalkan banyak tenaga, menutupi kelemahan saya dengan kekuatan otot. Tetapi setiap kali Vale menjelaskan sesuatu tentang motor kepada saya, itu mengubah gaya balap saya. Dia mampu membuat sesuatu yang sulit menjadi terlihat sederhana,” jelasnya.

    Diggia juga bercerita bahwa dia terharu saat mendapat pesan khusus dari legenda Carl Fogarty di media sosialnya. “Saya lahir pada 1998. Saya tumbuh di era Troy Bayliss, tetapi saya sudah nonton balapan Fogarty jutaan kali bersama ayah saya. Menerima pesan seperti itu dari seorang legenda adalah sebuah kehormatan yang luar biasa,” ujarnya sambil tersenyum.

    Diggia termasuk salah satu pembalap yang banyak diidolakan anak-anak kecil. Beberapa dari mereka bahkan diizinkan masuk ke garasinya. “Hal itu mengingatkan pada masa kecil saya. Di Portimao pada 2008, saya menunggu sekitar 1 jam untuk antre mendapatkan tanda tangan Bayliss. Itu meninggalkan kesan mendalam pada saya. Sekarang dengan anak-anak ini, saya melakukan hal yang sama. Saya mencoba memberi mereka sesuatu dan menularkan antusiasisme yang dulu pernah saya rasakan,” jelasnya.

    Ini pertanyaan yang sering diajukan para penggemar balap. Apakah seorang pembalap punya rasa takut saat beraksi di trek balap? Mengingat balap motor adalah olahraga yang penuh risiko. “Siapa pun yang bilang bahwa mereka tidak punya rasa takut saat mengendarai motor, itu omong kosong. Itu tidak mungkin. Namun saya selalu berusaha memanfaatkan rasa takut untuk sesuatu yang positif. Rasa takut menunjukkan batas kemampuan kita dan membuat kita bertindak secara rasional. Kita harus hidup berdampingan dengan rasa takut sepenuhnya,” tegasnya.RESMI Fabio Di Giannantonio Gabung Tim Pabrikan KTM Mulai 2027

    Rider yang tahun depan pindah ke tim pabrikan Red Bull KTM itu menambahkan, “Kita semua hanyalah manusia biasa. Kita semua sama-sama punya dua tangan, dua kaki, dan satu kepala. Jika seseorang mampu menjadi juara dunia, itu karena mereka melakukan hal-hal yang membuatnya mampu mencapai level itu. Dan saya juga yakin bahwa saya bisa melakukan hal yang sama.”

    BTW, Diggia menceritakan kisah unik saat helmnya hilang dicuri dan berhasil ketemu setelah bertahun-tahun kemudian berkat Instagram. “Saya mengunggah foto di akun saya. Lalu asisten saya melihatnya dan berkata kepada saya, ‘Lihat, itu helmmu’. Saya bisa mengenalinya dari stiker-stikernya. Orang yang memilikinya ternyata sangat baik. Kemudian dia mengembalikan helm itu kepada saya dan sebagai gantinya saya menghadiahinya sebuah helm baru,” pungkas rider yang saat ini berada di peringkat 5 dengan perolehan 184 poin atau terpaut 24 poin dari pemimpin klasemen Jorge Martin (Aprilia).

    © ridertua.com

    Informasi resmi jadwal pameran, tiket, daftar lengkap peserta dapat diakses melalui situs resmi GIIAS disini 👇 Official Media Partner GIIAS 2026 - Ridertua

    TINGGALKAN BALASAN

    Silakan masukkan komentar Anda!
    Silakan masukkan nama Anda di sini