RiderTua.com – Usai gagal mencetak poin setelah finis ke-14 dalam sprint di Sachsenring, Enea Bastianini berharap bisa meraih hasil yang lebih baik dalam race utama hari Minggu. Start dari P17, rider Tech3 KTM itu justru kehilangan satu posisi di awal balapan 30 lap. Tapi dia mampu perlahan-lahan merangsek maju. Dia diuntungkan dengan beberapa pembalap yang jatuh dan kemudian sempat duel melawan Franco Morbidelli (VR46 Ducati). Dia juga berhasil menyalip Diogo Moreira (LCR Honda) dan Brad Binder (KTM).
Pada akhirnya Bestia berhasil finis di posisi ke-9 tertinggal 10 detik di belakang pemenang Marrc Marquez (Ducati). Ini merupakan hasil 10 besarnya yang ke-7 musim ini, sekaligus mengantarkannya menempati peringkat 12 dengan perolehan 76 poin dalam klasemen.
Enea Bastianini: Yang Membatasi Performa Adalah RC16 Bukan Fisik Saya, Banyak Understeer dan Menguras Tenaga!

Menariknya, dengan time lap yang dicatatkan Enea Bastianini di sepertiga akhir balapan, seharusnya dia bisa bersaing di barisan depan. Namun banyak yang menilai bahwa sirkuit Sachsenring yang sempit dan pendek hanya sepanjang 3,671 km, adalah trek yang sangat sulit untuk melakukan manuver overtaking.
Namun Bastianini tak sependapat dengan anggapan tersebut. “Sebenarnya bisa menyalip, hanya saja sulit. Saat berada di belakang motor lain dalam slipstream, ban depan menjadi lebih panas. Panas tersebut membuat ban depan menjadi tidak stabil dan pembalap juga harus memperhatikan tekanan ban. Karena tekanan ban yang terlalu tinggi juga bikin motor sulit dikendalikan,” jelas rider asal Rimini Italia itu.
Setelah beberapa lap, Bestia menemukan cara untuk mengatasi masalah tersebut. “Kalau saya terlalu lama mempelajari pembalap di depan saya, biasanya kesempatan untuk menyalip sudah lewat. Jadi saya langsung menyerang tanpa terlalu memikirkan kapan momen yang tepat. Tetapi ini juga membawa risiko. Tidak mudah untuk langsung menyerang tanpa membaca gerakan lawan terlebih dulu, karena kita juga bisa membuat kesalahan,” ungkap rider berusia 27 tahun itu.

Bastianini menambahkan bahwa keausan ban selama balapan bukanlah masalah utama yang dihadapinya, melainkan 10 lap pertama yang menurutnya adalah bagian yang paling menyulitkan. Seperti rekan lainnya, dia juga mengalami understeer (kondisi ketika motor sulit berbelok karena ban depan kehilangan grip).
“Ketika ingin berbelok saat harus melewati tikungan 5 hingga 7, bagian depan motor tidak bekerja sebagaimana mestinya. Itu masalah besarnya. Pada saat yang sama, kita tidak bisa membiarkan ban belakang terlalu banyak selip. Kalau hal itu terjadi, setelah 5 lap ban akan mengalami penurunan performa yang cukup dratis,” jelas rider yang kerap dikaitkan dengan tim Trackhouse Aprilia untuk 2027 itu.
Selain itu, Bastianini juga mengaku bahwa RC16 sangat menguras fisik. “Motor kami sangat kaku, itu sudah pasti. Namun saya bekerja keras meningkatkan fisik saya selama musim dingin dan saat musim panas nanti, agar siap menghadapinya. Motor kami tidak cukup stabil. Secara pribadi, saya baik-baik saja. Saya belum mencapai batas kemampuan saya,” pungkasnya.

Dengan kata lain, Bastianini merasa dirinya masih mampu tampil lebih cepat. Menurutnya, yang membatasi performanya saat ini justru berasal dari karakteristik KTM RC16 yang kurang stabil, bukan dari kemampuan atau kondisi fisiknya sebagai pembalap.












