RiderTua.com – Strategi Marc Marquez untuk menggoyahkan mental Marco Bezzecchi tampaknya berjalan sempurna. Juara dunia 9 kali itu memang terkenal sebagai pembalap yang piawai memainkan ‘perang psikologis’. Seperti yang sering dia lakukan, Marquez kembali mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang sudah diperhitungkan sebelumnya untuk memberi tekanan pada pembalap Aprilia itu.
Hasilnya, Bezzecchi DNF dan gagal mencetak poin dalam 3 grand prix terakhir yakni di GP Hungaria, Ceko dan yang terakhir di TT Belanda akhir pekan lalu. Bahkan rider Italia itu harus kehilangan posisi sebagai pemimpin klasemen yang kini diambil alih rekan setimnya Jorge Martin. Dengan selisih 63 poin dari peringkat 1 hingga 8 dalam klasemen, ini artinya perebutan gelar dunia musim ini masih terbuka lebar dan tidak didominasi 1 atau 2 pembalap saja. Marquez sendiri kini hanya tertinggal 40 poin dari Martin.
Strategi Marc Marquez dengan Memberi Tekanan Psikologis Terhadap Marco Bezzecchi Membuahkan Hasil
Seperti yang Marc Marquez ucapkan tepat setelah sprint race di Assen, “Kemarin, saya bilang bahwa menurutku Bezzecchi akan mengumpulkan 37 poin dari sirkuit ini. Pagi ini dia sangat cepat. Dia pasti akan menang besok, karena di atas kertas dia memiliki kecepatan terbaik. Tetapi apa pun bisa terjadi dalam balapan.”

Pernyataan Marquez tersebut bukanlah kebetulan atau sekedar komentar biasa. Dengan menyatakan bahwa Bezzecchi ‘pasti akan menang’ (mengumpulkan poin maksimal 37 poin dari 2 balapan), juara dunia MotoGP 7 kali itu seolah memindahkan seluruh beban ekspektasi kepada MarcoBezz. Komentarnya tersebut sekaligus juga menegaskan bahwa Bezz sebagai favorit utama, dimana kalimat ini bukan memuji tapi justru menambah tekanan mental.
Setelah diskors akibat memukul marshal di Brno, Bezzecchi crash saat berada di posisi yang menjanjikan dalam 2 balapan terakhir. Rider berusia 27 tahun itu tampak terpengaruh, dengan melakukan kesalahan di lap-lap awal. Insiden tersebut bukan crash biasa, melainkan tanda bahwa tekanan yang dia rasakan sangat besar. Padahal sebelumnya, rider berjuluk Simply the Bezz itu adalah pembalap yang berkarakter kuat, tetapi tampaknya strategi Marquez berhasil merusak kepercayaan dirinya.

Perebutan gelar dunia yang awalnya tampak cukup mudah bagi Aprilia, kini berubah menjadi perang psikologis yang sangat sengit dan menegangkan. Melalui pernyataan-pernyataan yang terukur serta tekanan yang terus menerus dia berikan kepada rivalnya, Marquez tidak hanya semakin cepat di lintasan pasca cedera, namun juga terbukti pintar memainkan perang psikologi di luar lintasan.






