RiderTua.com – Selama musim 2026 berjalan, Fabio Di Giannantonio selalu menjadi penyelamat harga diri Ducati di banyak balapan disaat rival utama mereka Aprilia tampil mendominasi. Hal yang sama juga terjadi di TT Belanda akhir pekan lalu. Dalam sprint hari Sabtu, rider VR46 itu menjadi satu satunya pembalap Ducati yang nyempil diantara 4 pembalap Aprilia yang finis di 5 besar. Dia berhasil mengalahkan 2 pembalap tim pabrikan Jorge Martin dan Marco Bezzecchi dalam balapan 13 lap itu. Dan pada race hari Minggu Diggia finis di posisi ke-4 di belakang 3 pembalap Aprilia yang menyapu bersih podium.
Start dari P6, Diggia hanya mampu menyelesaikan lap pertama di posisi 9. Setelah itu dia melakukan segala upaya untuk mengejar ketertinggalan. Saat memasuki chicane sebelum garis finis, dia terlalu memaksakan diri ketika mencoba mengerem lebih lambat dari Marc Marquez. Akibat manuver tersebut Marquez melebar hingga masuk gravel, sementara dirinya juga tidak punya pilihan selain memotong chicane (shortcut). Stewards FIM langsung gercep dan memberinya ganjaran long lap penalti.
Usai Jalani Long Lap Penalti Fabio Di Giannantonio Berhasil Menyalip Marquez Lagi

Fabio Di Giannantonio mengungkapkan, “Awalnya, saya tidak tahu apa yang membuat saya dihukum. Tetapi kemudian saya sadar dan hukuman itu fair karena saya memotong chicane.”
Usai menjalani long lap penalti, Diggia kembali melakukan pengejaran. Dia berhasil menyalip Alex Marquez, Pecco Bagnaia, Pedro Acosta, dan terakhir Marc Marquez. Namun sayangnya dia tidak mampu mengejar Jorge Martin yang berada di posisi ke-3. Martin yang dalam sprint kemarin mampu dikalahkannya ternyata cukup kuat dalam balapan panjang. Pada akhirnya dia harus puas finis ke-4 tertinggal 9,3 detik di belakang pemenang Ai Ogura (Trackhouse Aprilia).
Diggia mengatakan, “Saya harus puas dengan hasil balapan di Assen. Itu balapan yang luar biasa. Kalau mengingat semua kejadian tadi, itu adalah balapan paling melelahkan tahun ini. Finis di posisi ke-4 atau dapat ‘medali kayu’ sangat bagus dalam balapan seperti ini. Saya rasa kami sudah semaksimal mungkin mengerahkan segenap kemampuan.”

Sama seperti Marc Marquez, rider asal Roma Italia itu juga mengkritik gravel di Assen yang menurutnya cukup berbahaya. Kebetulan Diggia menyaksikan crash yang dialami Marco Bezzecchi dari dekat. “Crash Marco sangat keras, sangat mirip seperti yang dialami Fermin (Aldeguer),” ujarnya.
Bezzecchi tergelincir lalu terguling-guling di gravel. Beruntungnya, setelah dilakukan pemeriksaan di rumah sakit rider Italia itu tidak mengalami cedera parah dan langsung diperbolehkan pulang. Sementara itu, tulang belakang Aldeguer cedera dalam insiden di Tikungan 10 hari Jumat kemarin.

“Kami sudah sering membahas ini di Komisi Keselamatan. Kondisi lintasan, area run-off, dan gravel trap harus dipastikan benar-benar aman. Beberapa sirkuit sudah melakukan perbaikan, dan menurutku Assen juga harus dievaluasi dalam hal ini,” pungkas Diggia, yang rekan setimnya Franco Morbidelli DNF setelah terjatuh di tikungan 4 di lap ke-10.
Usai TT Belanda, Diggia masih bertahan di peringkat 3 dan tetap menjadi pembalap Ducati terbaik dalam klasemen. Kini dia mengumpulkan 177 poin atau tertinggal 16 poin dari pemimpin klasemen yang baru Jorge Martin, dan unggul 24 poin atas Marquez yang turun ke peringkat 5 setelah hanya finis ke-7 dalam race utama di Assen.

Di lap 21 terjadi duel ketat Diggia dengan Marc yang menyebabkan keduanya keluar dari trek namun masih bisa lanjut. Marc yang melebar ke gravel masih bisa lanjut namun posisinya di belakang Diggia dan adiknya.. Diggia yang berada di posisi-4 mendapat LLP (Long Lap Penalti) yang di eksekusi di lap ke-23, lalu dia merosot di posisi ke-6 di belakang Marc Marquez. Dan di last lap dia berhasil menyalip Marc Marquez dan Alex Marquez..






