RiderTua.com – Bro-Sis RiderTua sekalian, ada info menarik dari pembalap tim pabrikan ini, di mana Pecco Bagnaia membandingkan metode Ducati dengan era Honda dan menyimpulkan bahwa Ducati tidak bekerja seperti tim Jepang itu.. Tentang bagaimana Ducati tidak pilih kasih dalam pembagian part baru bagi Marc dan Pecco, agar tidak terjadi ‘kecemburuan sosial’… Dia juga buka-bukaan soal performanya yang buruk tahun lalu dan menjadikannya sebagai pelajaran….
βΆDaftar Isi
Pecco Bagnaia Bongkar Perbedaan Filosofi Ducati dan Honda
Menjelang peluncuran tim paberikan Ducati Lenovo yang akan di gelar hari ini (19/01), Pecco Bagnaia memilih suasana santai di podcast Supernova untuk menengok perjalannya di musim 2025. Di sela-sela obrolan ringan dan canda tawa bersama Alessandro Cattelan, ia melontarkan pandangan menarik tentang bagaimana mengelola rekan satu tim dan mengapa metode pengembangan Ducati merupakan kebalikan dari apa yang Marc Marquez alami saat di tim Jepang (Honda).

Perbandingan Filosofi Kerja Ducati dan Honda…
Bagian paling menarik ketika Pecco berbicara tentang perbandingan filosofi kerja Ducati dan Honda. Pembalap Italia itu menjelaskan dengan gamblang mengapa Honda di dekade lalu bergantung pada satu pembalap dan di Ducati berbeda.
Bagnaia menyinggung masa keemasan Marc di HRC, dan berkata.. “Marquez mengembangan di Honda dengan cara seperti itu (fokus ke satu orang), dan itulah yang membuatnya menjadi satu-satunya yang mampu menunggangi motor tersebut…”
Menurut Pecco, strategi pengembangan yang terpusat pada satu orang ini memiliki sisi positif namun juga memiliki kelemahan..Β Ia mengakui keunggulan rekan setimnya saat ini, dengan mengatakan bahwa hal itulah yang membuatnya menonjol selama bertahun-tahun, namun Pecco tetap mengatakan sangat beda dengan ‘metode Ducati’. Di Borgo Panigale, mereka lebih memilih untuk membuka ruang yang lebih luas agar tiap sisi garasi bisa berkembang sendiri..

Ducati dengan 2 arah pengembangan berbeda..
Bagnaia menjelaskan bahwa di Ducati, mereka bisa mengembangkan motor dengan mengikuti dua jalur berbeda secara bersamaan. Dan ia tidak hanya berbicara tanpa dasar, tetapi didukung oleh data tahun 2025, tahun di mana fleksibilitas teknis menjadi kunci untuk koeksistensi. Bukan hanya kata-kata, Pecco memberika contoh nyata… “Tahun lalu kami balapan dengan dua spesifikasi fairing yang berbeda.”
Banyak pihak yang memprediksi garasi tim Lenovo akan kacau dengan dua juara dunia bersama, tetapi keadaan tidak seburuk itu. Pecco menjelaskan dengan gamblang bahwa ketika seorang pembalap dengan karisma seperti Marc datang, ada dua pilihan… “Anda bisa ribut den gan rekan setim sejak awal, atau memilih untuk rukun?.” Pada akhirnya, Marc Marquez dan Pecco Bagnaia memilih opsi ‘damai’, dan suasana garasi tim resmi Ducati lebih tenang daripada yang diperkirakan oleh media…

Ducati berlaku adil dengan 2 pembalapnya
Ketenangan di garasi tim pabrikan Ducati punya kiat yakni kesetaraan perlakuan terhadap dua pembalapnya. Bagnaia menjelaskan tentang bagaimana mereka mengatur suku cadang baru untuk menghindari kecemburuan… “Jika suku cadang untuk kami berdua tidak tersedia, tidak ada di antara kami yang mendapatkannya.”
Aturan itu baku di Ducati, dan menurut pembalap Italia itu, hal itu mencegah argumen yang tidak perlu karena di Ducati, semua pembalap diperlakukan dengan cara yang sama.
Performa Pecco Bagnaia 2025
Beralih ke topik lain, Pecco juga berbicara tentang performa-nya tahun 2025 lalu. Finis di peringkat kelima dunia di klasemen pembalap merupakan pukulan berat setelah sekian lama berada di puncak. Dia dengan jujur ββmengakui bahwa dia kurang konsisten.. “Saya merasa lebih seperti orang luar (outsider) daripada pembalap yang seharusnya konsisten berada di depan.” Ada momen-momen bagus, tetapi perasaan tidak sepenuhnya mengendalikan situasi membebaninya sepanjang musim.

Salah satu masalah terbesarnya adalah harus sering start dari barisan belakang, terjebak dalam kemacetan banyak pembalap. Bagnaia menggunakan ungkapan yang sangat gamblang untuk menggambarkan bagaimana rasanya berada di tengah kerumunan pembalap MotoGP: “Saya mulai menyebutnya Chaos (Kekacauan di lintasan atau Situasi yang sangat sulit dikendalikan di antara pembalap lain)”…Dia mengatakan bahwa keadaan menjadi buruk di sana dan kita bisa ditabrak kanan-kiri atau dari segala arah…
Start dari Baris Belakang adalah Masalah
Jika start dari belakang, masalahnya bukan hanya kontak fisik, tetapi juga bagaimana aerodinamika memengaruhi pembalap ketika berkendara dalam kerumunan pembalap… Pecco mengaku bahwa dia belum terbiasa bertarung sengit dengan kondisi ‘udara kotor’ (dibelakang pembalap lain)..
“Efek udara kotor yang diciptakan oleh 15 motor benar-benar mengubah cara kita membalap, dan jujur ββsaja, saya belum berpengalaman berkendara dalam kerumunan seperti itu.” Kurangnya pengalaman membalap dibelakang banyak pembalap lain ini membuatnya harus membayar mahal di beberapa balapan…

Mental baru Pecco di 2026
Menjelang musim 2026, yang akan segera dimulai, pembalap Italia ini mengaku telah belajar dari semua kesalahannya. Dia ingin kembali bersaing dan menegaskan bahwa semuanya adalah pelajaran, semuanya membantu belajar dan berkembang.
Dengan mentalitas baru, Pecco memberi sinyal bahwa jika dia kembali berada dalam situasi yang sulit, dia akan tahu bagaimana bereaksi secara berbeda…






