RiderTua.com – Pembaca setia RiderTua, apakah benar tanpa Valentino Rossi, MotoGP akan kehilangan daya tariknya di Italia..? ‘Garage51’ milik Michele Pirro akan bekerjasama dengan Ducati untuk mendirikan ‘V2 Future Champ Ducati Academy’. Akademi ini bertujuan untuk mempersiapkan para rider muda menghadapi level kejuaraan yang lebih tinggi, dengan menunggangi Panigale V2.
“Pada 2026 Ducati akan menghadirkan sesuatu yang baru, sebuah proyek yang didedikasikan untuk pembalap muda yang sebelumnya sudah dipresentasikan di EICMA. Bagi Ducati, ini adalah pertama kalinya mereka membuat program khusus untuk balapan di sirkuit. Proyek ini hadir pada saat mereka memiliki motor yang tepat,” ujar Pirro.
Michele Pirro: Tanpa Valentino Rossi, Dunia Balap Motor akan Kehilangan Daya Tariknya di Italia

Michele Pirro menjelaskan, “Panigale V2 memiliki karakteristik yang cocok untuk pembalap berusia 16 tahun ke atas. Tujuannya adalah untuk memberi kesempatan kepada pembalap muda dan menciptakan tim, sehingga mereka tidak perlu pergi ke tempat lain di masa depan, seperti pada tim junior KTM.”
“Tantangannya signifikan, tetapi semua kondisi yang diperlukan sudah tersedia untuk melakukannya dengan baik. Saat ini kita hanya dapat meletakkan fondasi, tetapi akan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menutup kesenjangan yang kita miliki dengan Spanyol dan negara-negara lain,” imbuh tes rider Ducati itu.

Apakah proyek Ducati tersebut terinspirasi dari Akademi VR46 milik Valentino Rossi? “VR46 telah melakukan pekerjaan yang luar biasa dan memungkinkan kami ‘mewarisi’ pembalap-pembalap hebat. Tetapi kami juga sadar bahwa, selain para pendatang baru di MotoGP, stok pembalap kami masih sangat sedikit. Tanpa Rossi, dunia balap motor juga akan kehilangan daya tariknya di Italia. Secara pribadi, tahun ini saya akan berusia 40 tahun dan saya ingin berkontribusi dalam hal ini. Memang tidak akan mudah, tetapi kita harus mulai dari suatu titik,” jawab Pirro.
Pertanyaannya, mengapa Ducati justru memilih mendirikan akademi ketimbang membentuk tim Moto3? “Saat ini dinamika kelas yang lebih rendah sedang berubah, dan biaya antara kejuaraan satu merek dan kejuaraan campuran pun berbeda. Pada kejuaraan satu merek, harga motor sekitar 23-24 ribu euro (Rp 450-470 juta), sedangkan motor produksi harganya 15 ribu euro (Rp 294 juta), dan biaya suku cadang jika terjadi kecelakaan juga wajar. Namun pada kejuaraan campuran, kita bicara tentang motor yang harganya 90-100 ribu euro (Rp 1,76-1,96 miliar), di mana setiap perbaikan mesin biaya perbaikannya mencapai 20 ribu euro (Rp 392 juta). Dengan proyek kami, para pembalap berbakat akan dapat menunjukkan kemampuan mereka,” jelas Pirro.

Siapa saja pembalap yang menjadi murid ‘V2 Future Champ Ducati Academy’ dan di mana kita dapat nonton kompetisi mereka? “Akan ada beberapa pembalap muda menarik yang datang dari ajang pra-Moto3, tetapi ada juga pembalap berpengalaman yang telah berkompetisi di balapan besar atau tampil di Kejuaraan Dunia,” jawab Pirro.
Pirro menambahkan, “Ide kami adalah menciptakan grid dengan campuran pembalap agar kualitasnya tinggi. Aspek positifnya adalah motor yang kami gunakan benar-benar baru, dan mulai 2027 mereka akan dapat mendaftar untuk Kejuaraan Supersport dan kejuaraan nasional. Kami ingin memberi kesempatan pada semua pembalap untuk bertarung di kondisi yang setara, karena saat ini sulit untuk menilai kemampuan asli dari seorang pembalap muda. Kompetisi dapat dilihat di situs web Federmoto dan di saluran YouTube Ducati.”






