RiderTua.com – Dalam beberapa tahun terakhir, produsen mobil asal Negeri Tirai Bambu terus melakukan ekspansi di pasar global secara agresif dengan mobil listriknya. Tapi muncul kekhawatiran soal kondisi pasar di negara asalnya, dimana ada potensi banyak merek lokal yang bertumbangan sepanjang tahun ini.
Ketatnya Persaingan Mobil Listrik di China Sendiri
Banyaknya merek mobil yang menjual mobil listrik di Negeri Tirai Bambu menjadi alasan mengapa penjualannya menjadi yang tertinggi di seluruh dunia. Produk yang ditawarkan cukup beragam, dan tidak sedikit ada yang mendapatkan insentif dari pemerintah setempat untuk memperlancar penjualannya. Jelas ini bisa membuatnya menjadi pemimpin penjualan model BEV secara global dalam beberapa tahun terakhir.

Namun pasarnya mulai dibayang-bayangi oleh sejumlah tantangan yang harus dihadapi sepanjang tahun ini. Seperti diberlakukannya sejumlah regulasi yang akan menekan puluhan merek mobil disana, sehingga membuatnya cukup sulit untuk bisa bertahan lebih lama. Terlebih tanpa adanya insentif serta terlalu banyak kendaraan yang diproduksi hingga perang harga, membuat mobil lebih sulit untuk dijual di pasar.
Ini bisa berakibat buruk pada 50 produsen mobil listrik disana, walau ada juga yang bisa bertahan lebih lama, seperti BYD hingga Seres. Tetap saja, ini bisa berdampak buruk pada penjualan model BEV secara keseluruhan yang bisa menurun drastis sepanjang tahun 2026. Kalau tidak ada penanganan lebih lanjut, pasarnya bisa anjlok begitu saja, entah dalam waktu singkat atau secara bertahap.

Masuk ‘Mode Bertahan Hidup’
Meski tidak disebutkan merek apa saja yang diprediksi tidak bisa bertahan di tahun ini, bisa jadi merek tersebut merupakan merek yang belum melakukan ekspansi ke pasar global seperti BYD dkk. Kalau sudah begini, mau tidak mau merek ini harus memasuki mode ‘bertahan hidup’ agar bisa bertahan setidaknya sampai akhir tahun 2026. Lamanya produsen bisa bertahan tergantung dari kondisi pasar hingga keuntungan yang didapatnya.

Nampaknya tahun ini akan menjadi tahun penuh tantangan bagi produsen di Negeri Tirai Bambu dengan masalah yang bisa saja muncul.






