RiderTua.com – Santi Hernandez adalah kepala kru yang menemani Marc Marquez meraih 6 gelar dunia MotoGP bersama tim pabrikan Honda. Lebih dari 1 dekade dia bertanggung jawab atas motor yang ditunggangi The Baby Alien. Tak hanya masa kejayaan, masa terpuruk saat Marquez cedera bahu yang rumit, dia juga selalu ada untuknya. Bahkan rumornya, Santi-lah orang yang mendorong Marquez untuk pindah ke Ducati ketika RC213V tidak lagi kompetitif. Dan ketika juara dunia 9 kali itu benar-benar pindah ke Ducati, Santi tetap menjadi teman baik Marquez.
Marc Marquez sukses meraih gelar dunia MotoGP 2025 di GP Jepang yang notabene merupakan markas Honda. Di momen itu Honda juga meraih podium berkat Joan Mir yang finis ke-3, dimana saat ini Santi menjadi kepala kru Mir. Sebuah kebetulan yang tak disangka.
Santi Hernandez: Marc Marquez Berhasil Menyembuhkan Luka yang Dia Timbulkan Sendiri

Santiago Hernandez mengatakan, “Sepertinya sudah tertulis dalam skenario. Itu sesuatu yang sangat istimewa, sangat emosional. Kami menikmatinya bersama. Karena pada akhirnya, kita juga menikmati hasil sendiri, finis di podium. Tetapi pada saat yang sama, kami mengalaminya secara langsung, melihat teman kita menjadi Juara Dunia lagi setelah semua yang telah dia lalui.”
“Melihat Marc begitu bahagia adalah sesuatu yang, jika seseorang memberi tahu kami di awal musim bahwa dia akan mencapainya dan menyelesaikannya dengan cara ini, jujur saja kami tidak akan mempercayainya. Tapi ya, ini seperti skenario film yang sempurna. Pelukan antara dua teman yang bahagia atas kesuksesan yang telah dia raih. Namun yang terpenting, karena telah menghadapi sesuatu yang sulit seperti kembali ke sana, tersenyum lagi, dan bahagia lagi,” imbuh insinyur asal Kolombia itu.

Menurut Hernandez kesulitan adalah bagian dari proses. “Entahlah, apakah saya pernah melihat di film dokumenter atau dari wawancara, Michael Jordan pernah berkata, ‘dalam kehidupan olahraga saya, saya telah melakukan 9.000 tembakan dan semuanya meleset. Berapa kali mereka mengoper bola kepada saya di detik-detik terakhir yang menentukan pertandingan, tapi saya gagal? Itulah yang membawa saya menuju kesuksesan’. Dan bagi saya, kisah Marc sedikit mirip dengannya,” jelas mekanik berusia 33 tahun itu.
Dengan gelar ini, Marquez mengakhiri mimpi buruknya dalam beberapa tahun terakhir, di mana dia bahkan pernah meragukan dirinya sendiri. “Ketika dia mengatakan dia merasa tenang, saya rasa itu karena pada akhirnya dia menyembuhkan luka yang dia timbulkan sendiri. Dalam arti yang sesungguhnya. Pada akhirnya dia mampu menyelesaikan masalah yang dia ciptakan dalam dirinya sendiri. Dan menurutku itu juga menceritakan tentang dirinya, karena tidak mudah untuk mengatasi hal itu,” ujar Santi.

Santi berpendapat, kisah Marquez akan selalu dikenang sepanjang masa. “Marc, mungkin sekarang kita belum menyadarinya, tetapi saya rasa ketika dia pensiun dan waktu pun berlalu, dia akan menjadi seseorang yang akan dikagumi banyak orang,” pungkasnya.





