RiderTua.com – Sobat pembaca setia RiderTua, Fabio Di Giannantonio melontarkan pernyataan mengejutkan dimana jika musim lalu dengan motor yang sama dengan Marc Marquez (GP25) dan meniru setup motor milik Marc Marquez, maka dia percaya justru akan finis terakhir..
Memang jika seseorang hanya mengamati dari luar, apalagi dari rumah, akan mudah berkomentar (omdo).. Misalnya saat Marc terlihat mendominasi maka dengan mudah para ‘pengamat dadakan’ itu akan bilang: mengapa pembalap lain tidak meniru setup pembalap yang menang saja? kan lebih mudah? iya mudah untuk dikatakan, tapi sulit untuk di praktikkan…..Isu ini menjadi perbincangan hangat di musim 2025 di kubu Ducati, ketika Marc Marquez mampu memaksimalkan GP25 sementara yang lain kesulitan menemukan ritme dan feeling mereka…
▶Daftar Isi
Fabio Di Giannantonio: Kalau Saya Meniru Setingan Motor Marc Marquez, Saya Finis Terakhir
Fabio Di Giannantonio menanggapi topik ini dengan sangat jelas… di MotoGP, ‘Copy-Paste’ tidak akan berhasil. Pembalap asal Roma ini, yang telah menyelesaikan tahun pertamanya dengan kontrak pabrikan bersama tim VR46, menjelaskan bahwa telemetri tidak pernah menceritakan keseluruhan cerita. Setiap pembalap akan berbeda reaksinya saat di atas motornya.

“Masalahnya adalah setiap pembalap bekerja, mencari solusi, dan mengendarai motornya dengan cara yang berbeda,” kata ‘Diggia’ kepada Crash.net saat menjelaskan kenapa ia tidak memakai setingan motor yang sama dengan juara dunia asal Spanyol itu.
Banyak yang mengira Diggia tidak meniru karena sombong, tetapi menurutnya semua itu murni alasan teknik dan adaptasi. Ia sendiri mengakui bahwa ia menghabiskan berjam-jam mengamati apa yang dilakukan orang lain untuk mencoba agar bisa lebih cepat 0,1 detik, meskipun ia tahu ada batasan yang tak bisa dilewati.
“Percayalah, saya mempelajari pembalap lain dan mencoba meningkatkan kemampuan mereka di mana mereka lebih baik dari saya. Tapi saya tidak akan pernah bisa meniru persis cara mereka bekerja atau gaya mereka mengendarai motor,” katanya.

Intinya adalah angka-angka pada pengaturan itu tidak berarti jika tidak sesuai dengan gaya balapnya. Teknisi bisa menyeting motor dengan geometri dan suspensi yang sama, tetapi hasilnya di lintasan biasanya adalah sebuah bencana. Di Giannantonio merangkumnya dengan sangat jelas… “Kamu bisa mencontek setingan motornya, tetapi mengendarai motor dengan setingan itu adalah cerita yang sama sekali berbeda.”
Untuk lebih memperjelasnya, pembalap Italia itu memberi gambaran tentang apa yang akan terjadi jika ia mencoba meniru setingan motor Marc… “Jika saya meniru setingan Marc, saya pasti akan finish di posisi terakhir, 100%,” tegasnya.
Pada akhirnya, semuanya bergantung pada kepercayaan diri pembalap dengan bagian depan motor dan bagaimana pembalap berkomunikasi dengan mekaniknya.. “Ini masalah apa yang kamu minta dari motor, apa yang kamu minta dari tim, apa yang kamu butuhkan untuk merasa nyaman, untuk memacu dan percaya pada motor, agar bisa melaju cepat.”

Dukungan untuk Pecco Bagnaia..
Di tengah penjelasan tersebut, Diggia juga ingin memberikan dukungan kepada rekan satu pabrikannya, Pecco Bagnaia. Juara MotoGP dua kali itu menutup musim dengan hasil yang kurang meuaskan, finis di peringkat kelima dunia, tetapi Di Giannantonio percaya bahwa kritik yang ditujukan kepadanya tidak sepenuhnya adil…
“Saya ingin sedikit membela Pecco sebagai sesama pembalap… terkadang ini bukan masalah dengan dirinya. Mungkin mereka hanya mencari hal yang salah. Itu saja,” katanya, menyiratkan bahwa terkadang tim bisa tersesat dalam mencari setingan motor. Ia menyimpulkan satu hal dengan jelas bahwa “Pecco jelas tidak kehilangan kemampuan mengendarai motor.”
Diluar aspek teknis, musim Di Giannantonio bisa dikatakan cukup positif, meskipun tidak spektakuler… Di 2025 lalu dia peringkat keenam dunia dengan 262 poin, di belakang motor Ducati GP24 milik Alex Marquez yang menjadi runner-up dan di depan rekan setimnya, Franco Morbidelli.

Musim lalu memberinya empat momen gemilang berupa podium di balapan utama. Ia lebih dulu memberi sinyal di Austin dengan finis ketig, dan mengulangi posisi tersebut di Mugello, menikmati sambutan meriah di balapan kandang sendiri di depan publik tuan rumah Italia..
Puncaknya dia torehkabn di GP Phillip Island,di mana ia menampilkan performanya yang fantastis, start dari posisi kesepuluh dan finis di posisi kedua, mengelola ban seperti seorang pembalap berpengalaman di salah satu sirkuit paling menantang di kalender.
Dan mengakhiri tahun 2025 dengan catatan yang baik, ia kembali ke podium di Valencia dengan finis di posisi ketiga lagi. Musim pertama dengan motor spesifikasi pabrikan (GP25) itu memang menjanjikan, meskipun tetap menyisakan sisi gelap yang tak bisa diabaikan…






