RiderTua.com – Emilio Alzamora yang kini berusia 52 tahun adalah orang yang menemukan dan mendampingi Marc Marquez selama 18 tahun. Ia selalu mengawal perkembangan Marc sebagai pembalap, urusan bisnis, seperti hubungannya dengan para sponsor.
Namun mulai musim MotoGP 2022, Marc memutuskan untuk mengakhiri kerjasama dengan Alzamora sebagai manajer, dan menggantinya dengan Jaime Martinez. Meskipun “dipecat”… Alzamora tidak pernah kecewa apalagi menyimpan dendam atas perpisahan itu, bahkan mengaku ikut bahagia melihatnya mantan anak didiknya itu kembali menjadi juara dunia.
Emilio Alzamora Bongkar Rahasia Marquez: Mental Baja yang Membuatnya Tak Pernah Habis

Emilio pertama kali bertemu dengan Marc saat ia berusia 12 tahun. Sejak saat itu, satu hal sudah sangat jelas di matanya “Kita bisa melihat bahwa dia sudah tahu persis apa yang ingin ia capai sejak kecil.” Bakatnya mengalir dalam DNA-nya… sejak awal dia ditakdirkan menjadi nama besar di dunia balap roda dua…
Tak heran kini dia telah berhasl mengoleksi sembilan gelar dunia, tujuh diantaranya di kelas MotoGP, dan tetap menjadi favorit utama untuk musim 2026, meskipun banyak pembalap muda yang gacorr.. Meskipun faktor motor Ducati juga punya andil, karena merupakan motor terbaik di grid.
Namun menurut Alzamora, kekuatan Marquez tak berhenti di situ…”Saat ini, faktanya adalah Marc memiliki kombinasi yang tak mudah untuk dikalahkan,” kata Alzamora…

“Ducati memang terbukti sebagai motor yang sangat kompetitif… Tetapi ini sama sekali tidak mengurangi peran Marc, karena sangat jelas bahwa Marc yang membuat perbedaan sebagai seorang pembalap,”… Sementara kita juga melihat dengan motor yang sama pembalap Ducati lainnya kadang zonk…
Alzamora menjadi saksi hidup saat masa-masa sulit Marquez: cedera hebat di Jerez pada tahun 2020, patah tulang lengan, berbagai operasi, dua kali mengalami diplopia (penglihatan ganda}… “Menurutnya diplopia adalah ujian yang terberat dalam kariernya, meskipun patah tulang humerus juga tidak mudah,” tambah Alzamora.
“Memang dibutuhkan sedikit keberuntungan dan keajaiban untuk bisa terhindar dari musibah itu… Tetapi yang membuat Marc beda adalah keteguhannya.. seorang pembalap yang sangat gigih yang mengatasi semua kemalangan dan cedera yang menimpanya. Pada akhirnya, justru dari situlah kebesaran Marc semakin terlihat….” kata Alzamora

Rahasia kesuksesan Marc bukan hanya ketahanan mentalnya, tetapi juga keberaniannya dalam membuat pilihan dan keputusan besar…. Seperti keputusannya untuk meninggalkan Honda, dan melepaskan kontrak dengan gaji besar, dan memilih pindah ke Gresini sebelum akhirnya berlabuh di tim resmi Ducati.
Ada yang mengira Marc mengambil risiko besar.. Namun ternyata tidak terbukti sebuah pilihan salah.. Kini yang menarik adalah: satu-satunya lawan terbesar Marquez adalah dirinya sendiri. “Saya pikir dia sedang berjuang melawan tujuannya sendiri, yaitu memenangkan gelar Dunia, memenangkannya lagi, dan terus melakukannya,” kata mantan manajer Marc tersebut. Target Marc bukan sekadar menang satu kali, melainkan terus mengulang kemenangan itu.
Menurut Alzamora, mempertahankan level seperti ini mustahil dilakukan tanpa mimpi yang terus dijaga. “Sangat sulit untuk mempertahankan kecepatan ini jika ia tidak memiliki sesuatu untuk diimpikan. Dan menurut saya kemenangan jelas merupakan mimpinya.” pungkasnya… Dan bagi Marquez, mimpi itu sederhana namun kuat: terus menang, dan terus menjadi juara dan juara lagi..sampai tua..






