Penalti Quartararo ‘Membantu’ Pecco, Melemahkan Yamaha?

RiderTua.com – Di GP Inggris, penalti yang terpaksa dilakukan Fabio Quartararo di awal balapan saat grup masih sangat dekat, membuatnya kehilangan empat posisi. Ini bisa dibilang menempatkannya di titik lemah Yamaha yakni mengekor di belakang motor lain. Saat itu terjadi, apalagi dalam kondisi panas (sangat panas), M1 berada dalam masalah yang sangat besar. Penjelasannya sangat sederhana, ban terlalu panas. Dan bukan hanya karet bannya yang menjadi panas, tapi tekanan udara meningkat, profil berubah dan cengkeraman menghilang, cornering speed melayang. Hasil balapan ‘membantu’ Pecco memangkas jarak poin dengan pemimpin klasemen..

Yamaha juga jauh tertinggal dalam hal top speed. Quartararo berada di posisi 3 paling lambat dalam pengukuran. Itu diukur di 331,2 km/jam, sedangkan Ducati (Enea Bastianini) teratas diukur pada 340,6 km/jam. Pembalap harus mengimbanginya dengan penanganan motor yang baik dan kecepatan menikung yang bagus. Tapi ketika cengkeramannya hilang, semua berakhir.

Quartararo menjadi satu-satunya pembalap Yamaha yang bisa lolos dengan cukup baik untuk menghindari kerumunan sehingga dia bisa kompetitif. Di Inggris, Morbidelli menjadi pembalap Yamaha terbaik kedua dengan finis di posisi ke-15. Dovizioso dan Darryn Binder tidak berhasil meraih poin. Faktanya, Dovizioso sangat kecewa dengan pertarungan yang tidak seimbang sehingga dia akan pensiun setelah balapan kandangnya di Misano, melewatkan 6 seri terakhir secara keseluruhan.

Bahkan El Diablo tidak berhasil kembali ke depan ketika ada empat motor di depannya. “Menyalip hampir tidak mungkin,” keluhnya setelah merosot dari posisi ke-2 di awal menjadi posisi ke-8 di akhir.

Tentu saja, semua ban pembalap adalah sama. Oleh karena itu kontroversi mengenai tekanan ban, tetapi tidak semua performa balapan mengalami hal yang sama. Dengan Ducati dan sekarang Aprilia, kecepatannya tidak berubah.

Seseorang dapat dengan mudah menyimpulkan, bahwa ini karena mereka adalah mesin V4, secara inheren lebih bertenaga dan dalam beberapa hal lebih gesit (atau kurang stabil) ketimbang mesin 4 in-line, terutama karena poros engkolnya yang lebih pendek, lebih kaku dan lebar mesin yang lebih sempit .

Dengan mesin inline yang lebih kokoh, mereka akan lebih cepat menikung, sementara motor V4 bisa mengerem lebih keras, mendapatkan kecepatan tikungan tengah (mid corner) yang lebih sedikit, tetapi berakselerasi lebih cepat. Ini berarti hilangnya cengkeraman membuat semua perbedaan.

Namun seperti biasa terjadi pada sepeda motor, hal-hal sedikit lebih rumit dan sedikit kurang mudah untuk dijelaskan. Karena Suzuki yang mesinnya hampir sama dengan Yamaha tidak mengalami hal yang sama.

Alex Rins tidak hanya mampu naik dari posisi 5 di lap satu ke posisi 1 di lap 6 di Silverstone, dia juga mampu memimpin selama 6 lap. Pada akhirnya, bannya aus sehingga dia turun kembali ke posisi 7, masih satu tempat di depan Fabio Quartararo.

Hasil akhirnya sangat menggembirakan bagi kejuaraan. Kemenangan Bagnaia menempatkannya dalam jarak 49 poin dari Quartararo dengan 8 balapan tersisa. Pecco memenangkan 4 balapan di antaranya tahun lalu. Pada saat yang sama, saingan terbesar untuk meraih gelar, Aleix Espargaro (Aprilia) mampu mengamankan tempat ke-9 setelah crash parah yang membuatnya hanya unggul 1 poin atas rider asal Prancis itu.

Pertarungan Gelar MotoGP 2022

Liburan musim panas selama 5 pekan sangat bagus untuk me-recharge ‘power’ para pembalap MotoGP. Memasuki paruh kedua musim, GP Silverstone menyuguhkan akhir balapan yang seru. Namun pada akhirnya Pecco Bagnaia (Ducati) berhasil mengalahkan Maverick Vinales (Aprilia) yang secara mengejutkan mampu melawan dalam duel sengit menjelang garis finis. Last but not least, kecerdikan strategi dan kecepatan membuatnya tidak dapat diprediksi. Lap terpanjang tahun ini dan 18 tikungan yang sangat bervariasi menghasilkan kombinasi yang bagus. Dan dalam 8 balapan GP Inggris terakhir, menghasilkan 8 pemenang yang berbeda.

Tahun ini giliran Bagnaia dan Ducati, sesuatu yang tidak terduga. Tahun lalu, Fabio Quartararo tidak terkalahkan di sana, tetapi dia harus menyelesaikan long lap penalti yang sebenarnya tidak banyak menghabiskan waktu. Misalnya, di Misano 1,5 detik dibandingkan dengan sekitar 5 detik (Bagaimana FIM Stewards bisa adil dengan begitu besar perbedaan dari satu trek ke yang lain?). Bagaimanapun, Fabio diharapkan untuk nge-push kembali. Karena tahun lalu dia menang 2,6 detik dengan nyaris tidak berkeringat.

Apa yang terjadi selanjutnya? Balapan selanjutnya di Red Bull Ring-Austria diikuti oleh 7 sirkuit lainnya. ‘Ya, apapun itu balapan pasti lebih baik ketimbang liburan.’

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Trending Post

Latest Articles

Gerakan Literasi Nasional

Ayo Kita Dukung

Archives

You cannot copy content of this page

%d bloggers like this: