Kevin Schwantz: Vinales Pasti Sangat-sangat Tidak Bahagia di Yamaha

1

RiderTua.com – Yamaha mungkin tersinggung… Awalnya Maverick Vinales ‘keceplosan’ mengatakan bahwa dia akan berpikir secara matang dan berhati-hati saat menandatangani kontrak berikutnya. Akibatnya pembalap pabrikan Yamaha itu mendapat ‘semprotan’ dari Yamaha, sejurus kemudian dia berpura-pura jika pernyataannya itu merujuk pada masa-masa di Moto3 dan Moto2-nya. Yamaha tampaknya tidak percaya, mulai dari situ muncul ‘bara dalam sekam’.. Pernyataan yang merusak nama perusahaan dapat dengan mudah mempercepat pemutusan kontrak, seperti omongan Zarco terhadap KTM. Dan ketika Vinales ‘pamitan’ Yamaha tidak menahannya.. Penampilan fluktuatif di paruh pertama musim apalagi setelah finis paling buncit di Sachsenring, jelas membuat Vinales ‘down’. “Vinales pasti sangat-sangat tidak bahagia di Yamaha. Mental kita harus kuat jika terus menerus kita dikalahkan rekan setim kita,” kata mantan juara dunia 500 cc Kevin Schwantz.

Kevin Schwantz: Vinales Pasti Sangat-sangat Tidak Bahagia di Yamaha

Mungkin Vinales ingin menggunakan fakta-fakta ini untuk membujuk bos Yamaha agar bisa mengakhiri kontrak, yang menjaminnya dengan gaji 6,5 juta euro per tahun.Schwantz: Morbidelli Pembalap yang Harus Diwaspadai

Ketika di Assen seminggu kemudian Vinales mengatakan bahwa pabrikan Yamaha hanya kompetitif 4 kali setahun. Meskipun faktanya Yamaha telah meraih 4 kemenangan dalam 8 balapan pertama dan jelas Fabio Quartararo memimpin Kejuaraan Dunia MotoGP, hubungan baik itu akhirnya pecah.

Setelah semua perbedaan pendapat ini, Yamaha setuju untuk mengakhiri kontrak pada balapan GP Belanda pada akhir Juni. Pada saat yang sama, kesepakatan dibuat dengan bos tim Petronas Yamaha Razlan Razali, yang setuju untuk menyerahkan runner-up Juara Dunia Franco Morbidelli ke Tim Pabrikan Monster Yamaha untuk 2022.

By the way, Maverick Vinales telah memenangkan 8 balapan MotoGP untuk Yamaha dalam 4,5 tahun, sementara Quartararo memenangkan 7 balapan hanya dalam 11 bulan.

Kevin Schwantz adalah juara dunia 500 cc pada tahun 1993 dengan Suzuki dan pemenang GP 500 cc 25 kali. Pria asal Texas-AS itu mengumumkan pengunduran dirinya di GP Mugello pada tahun 1995 pada usia 31 tahun, setelah mengalami banyak cedera. Sebagai konsultan Suzuki, dia mengenal Vinales dengan baik pada tahun 2015 dan 2016.

Apa yang Kevin katakan tentang peringkat ke-6 saat ini di Kejuaraan Dunia, yang dua kali finis kedua dalam dua balapan pertama di Jerez pada tahun 2020 dan kemudian turun kembali ke tempat ke-6 di Kejuaraan Dunia pada akhir musim?

Heran…

Schwantz juga heran dengan perilaku dan performa Vinales, yang berganti kepala kru di Yamaha hingga 3 kali dalam 2,5 tahun. “Melihatnya finis terakhir di Sachsenring, sementara Fabio Quartararo berhasil finis ke-3 dalam balapan itu. Dan seminggu kemudian dia menjadi yang tercepat di setiap sesi di Assen, dia mengamankan pole position dan hanya dikalahkan oleh Fabio di balapan tersebut,” kata Schwantz dalam sebuah wawancara.

“Kedua pembalap Yamaha lebih cepat ketimbang rider lain di GP Belanda, dengan selisih yang jelas. Tapi hati-hati, motor tidak bisa berubah dari motor yang finis terakhir menjadi motor pemenang hanya dalam 1 minggu. Itu meningkat dari posisi ke-5 atau ke-6 ke posisi pertama.’

Tapi motor balap tidak bisa begitu jauh tertinggal dalam beberapa hari dan kemudian berubah menjadi sangat kompetitif. Fabio telah menunjukkannya. Dia finis di urutan ke-3 di Jerman dan pertama di Belanda. Tentu, hari ini jarak antara rider paling belakang dan paling depan lebih dekat ketimbang sebelumnya. Jadi ketika kita mengalami hari yang buruk, kita bisa mendapatkan 0,3 atau 0,4 detik. Tapi kemudian kita tidak melorot kembali 20 tempat,” imbuh pria berusia 57 tahun itu.

“Kita tidak hanya harus menjadi pembalap yang baik di MotoGP. Kita juga harus punya mental kuat di benakmu. Jika pembalap di garasi sebelah kita menang dan memimpin di Kejuaraan Dunia, kita dapat dengan mudah menjadi sedih atau putus asa. Kemudian kita merasa hancur dan babak belur. Tetapi kita masih harus tetap berkonsentrasi pada pekerjaan, mendapatkan yang terbaik darinya dan melakukan yang terbaik yang kita bisa hingga akhir tahun.”

Kita tidak ingin berasumsi apapun kepada Vinales. Tapi dia mungkin memperhatikan apa yang terjadi pada Johann Zarco (di Red Bull KTM) dan Jorge Lorenzo (di Repsol-Honda) pada 2019. Dimana terlihat ada semacam penolakan untuk bekerja, hasil yang menyedihkan, dan pernyataan yang merusak nama perusahaan (Zarco) dapat dengan mudah mempercepat pemutusan kontrak.

Lorenzo tidak dilepas kembali pada bulan Agustus ketika Ducati menginginkannya untuk tahun 2020. Namun setelah mengalami cedera, beberapa hasil buruk sudah cukup untuk mendapatkan persetujuan HRC, meskipun faktanya tidak ada pengganti yang setara dengan rookie Alex Marquez.

Kevin Schwantz tertawa terbahak-bahak ketika mengenang kembali peristiwa ini pada tahun 2019. “Ya, dalam kedua kasus, tim dan pembalap sepakat untuk memutuskan kontrak,” ujar Kevin sambil tersenyum.

Belum jelas apa yang akan dilakukan Vinales di masa depan. Tetapi jika dia pindah ke tim pabrikan Aprilia, dia tidak akan membantu dirinya sendiri. Pertanyaannya apakah dia akan pernah bisa memperjuangkan gelar di sana? Yang past, diai akan mendapatkan gaji lebih sedikit di sana dan menunggangi motor yang tidak pernah finis di 5 besar sejak 2015.

“Saya tidak tahu mengapa Maverick mengambil risiko ini dan menerima sesuatu seperti itu. Dia pasti sangat-sangat tidak bahagia di Yamaha. Aleix Espargaro selalu mengklaim bahwa Aprilia sangat dekat dengan puncak. Tapi kemudian dia melewati garis finis di urutan ke-8. Jadi belum begitu dekat dengan motor pemenang,” pungkas pria asal Texas Amerika Serikat itu.

1 COMMENT

Leave a Reply