RiderTua.com – Ada satu fakta tentang Maverick Vinales yang sering banget dilupain orang pas lagi ngomongin musim 2026: dia tuh bukan sekadar pembalap biasa yang lagi berjuang keras buat bertahan di MotoGP. Dia ini mantan juara dunia, pemenang balapan bareng tiga pabrikan berbeda, dan dulunya sempat digadang-gadang bakal jadi salah satu wajah masa depan kelas utama.
▶Daftar Isi
Maverick Vinales Janji Jadi ‘Prajurit’, Jorge Lorenzo Jadi ‘Komandan’
Karena itulah, keputusan Vinales gandeng Jorge Lorenzo sebagai pelatih performa jelang musim 2026 langsung menarik perhatian paddock. Banyak yang melihatnya sebagai kombinasi ideal. Lorenzo membawa pengalaman lima gelar dunia dan disiplin yang terkenal ketat, sementara Vinales membawa kecepatan alami yang selama ini diakui hampir semua tim yang pernah bekerja dengannya.
Harapannya sederhana, tetapi besar. Proyek itu dibangun untuk membawa Vinales kembali bersaing di papan atas dan menantang pembalap muda KTM seperti Pedro Acosta. Selama persiapan musim dingin, Lorenzo terapkan program latihan yang sangat detail, mulai dari presisi berkendara hingga manajemen ban dalam berbagai kondisi lintasan.

“Saya akan menjadi prajurit Anda”..
“Maverick Viñales told me he was going to dedicate himself entirely to me, that he would become my soldier, and even more so than Pedro Acosta.”(Artinya: “Maverick Viñales memberi tahu saya bahwa dia akan mendedikasikan dirinya sepenuhnya kepada saya, bahwa dia akan menjadi prajurit saya, bahkan lebih (tunduk) daripada Pedro Acosta.”) – GPOne 2026/02/02
Kalimat itulah yang, menurut penuturan Jorge Lorenzo, pernah disampaikan Vinales saat meyakinkannya untuk bergabung sebagai pelatih performa. Lorenzo mengungkap bahwa Vinales berjanji akan mendedikasikan dirinya sepenuhnya dan mengikuti metode latihan yang diterapkannya. Analogi yang dipakai Lorenzo pun tak kalah menarik. Ia samakan hubungan mereka seperti Rocky Balboa dan Apollo Creed: seorang pembalap bertalenta yang dibimbing mantan juara dunia demi kejar target yang lebih besar. Di atas kertas, sulit membayangkan kolaborasi yang lebih menjanjikan.
Namun dunia balap tidak selalu berjalan sesuai skenario….
Dua seri pertama musim 2026 langsung ngerubah arah cerita. Vinales gagal meraih poin di Thailand setelah finis di posisi ke-16. Situasinya semakin berat di GP Brasil. Ia memulai balapan dari posisi ke-20 sebelum akhirnya finis di urutan paling belakang. Dalam waktu singkat, proyek yang semula diproyeksikan sebagai awal kebangkitan mulai kehilangan momentumnya.

Perubahan itu tak terjadi lewat satu pengumuman besar. Lorenzo perlahan tak lagi hadir dampingi Vinales pada beberapa putaran luar Eropa, sementara Vinales menjelaskan bahwa kerja sama intensif mereka memang lebih difokuskan pada masa persiapan musim dingin. Duet yang sempat memunculkan optimisme tinggi akhirnya berhenti sebelum benar-benar menunjukkan hasil yang diharapkan.
Berakhirnya proyek bersama Lorenzo ternyata bukan akhir cerita, melainkan awal dari rangkaian persoalan yang lebih besar.
Memasuki pertengahan musim, hubungan Vinales dengan Red Bull KTM Tech3 mulai jadi sorotan. Dampak cedera bahu yang dialaminya sejak musim sebelumnya ikut pengaruhi performa, sementara rencana promosi ke tim pabrikan KTM untuk musim 2027 akhirnya dibatalkan. Situasi yang semula hanya berkaitan dengan hasil di lintasan perlahan berkembang jadi persoalan mengenai masa depan kariernya.

Puncaknya terjadi pada GP Jerman. Vinales secara terbuka sampaikan kekecewaannya terhadap situasi kontrak yang menurutnya pengaruhi rasa percaya dirinya. Di sisi lain, Direktur Motorsport KTM, Pit Beirer, memastikan bahwa negosiasi perpanjangan kontrak akhirnya benar-benar berakhir.
Dampaknya segera terlihat ketika bursa pembalap MotoGP mulai bergerak. Kursi Vinales di Tech3 dipastikan akan ditempati Luca Marini bersama satu rookie Moto2 pada musim 2027. Sementara itu, sebagian besar tim kompetitif telah melengkapi susunan pembalapnya. Akibatnya, Vinales dipastikan tak memperoleh tempat di grid MotoGP 2027.
Jika hanya melihat akhir kisahnya, mudah menyimpulkan bahwa karier Vinales berjalan biasa saja. Namun ketika menengok kembali rekam jejaknya, gambaran itu berubah.

Ringkasan Rekam Jejak Maverick Vinales
| Tahun | Kategori / Kelas | Motor | Tim | Peringkat Akhir |
|---|---|---|---|---|
| 2011 | 125cc | Aprilia | Blusens by Paris Hilton | Ke-3 (Rookie of the Year) |
| 2012 | Moto3 | FTR Honda | Blusens Avintia | Ke-3 |
| 2013 | Moto3 | KTM | Team Calvo | JUARA DUNIA 🏆 |
| 2014 | Moto2 | Kalex | Paginas Amarillas HP 40 Pons | Ke-3 (Rookie of the Year) |
| 2015 | MotoGP | Suzuki | Team Suzuki Ecstar | Ke-12 (Rookie of the Year) |
| 2016 | MotoGP | Suzuki | Team Suzuki Ecstar | Ke-4 (Kemenangan pertama di Silverstone) |
| 2017 | MotoGP | Yamaha | Movistar Yamaha MotoGP | Ke-3 (Peringkat terbaik di MotoGP) |
| 2018 | MotoGP | Yamaha | Movistar Yamaha MotoGP | Ke-4 |
| 2019 | MotoGP | Yamaha | Monster Energy Yamaha MotoGP | Ke-3 |
| 2020 | MotoGP | Yamaha | Monster Energy Yamaha MotoGP | Ke-6 |
| 2021 | MotoGP | Yamaha / Aprilia | Yamaha / Aprilia Racing (Pecah kontrak) | Ke-10 |
| 2022 | MotoGP | Aprilia | Aprilia Racing | Ke-11 |
| 2023 | MotoGP | Aprilia | Aprilia Racing | Ke-7 |
| 2024 | MotoGP | Aprilia | Aprilia Racing | Ke-7 (Menang di Austin) |
| 2025 | MotoGP | KTM | Red Bull KTM Tech3 | Ke-18 (Musim adaptasi berat) |
| 2026 | MotoGP | KTM | Red Bull KTM Tech3 | Terpuruk (Kandas bersama Lorenzo & potensi didepak untuk 2027) |
.

Catatan tersebut menunjukkan bahwa Vinales bukan hanya pernah mencapai puncak, tetapi juga mampu meraih kemenangan bersama tiga pabrikan berbeda… sebuah pencapaian yang hanya dimiliki sedikit pembalap di era modern.
Mungkin di situlah letak ironi terbesar dari perjalanan seorang Maverick Vinales. Seorang mantan juara dunia yang mengawali musim 2026 lewat proyek ambisius bareng Jorge Lorenzo dengan harapan bisa bersaing lagi di papan atas, malah harus mengakhiri musim dengan kepastian kalau dia udah nggak punya kursi balap lagi untuk MotoGP 2027. Dunia balap emang nggak selalu berjalan sesuai ekspektasi besar yang dibangun di awal, dan kisah Vinales ini jadi contoh paling nyata gimana proyek yang kelihatan sempurna banget di atas kertas bisa berakhir beda jauh pas musimnya beneran dimulai.













