RiderTua.com – Halo pembaca setia RiderTua, kembali bahas Marc Marquez yang beberapa waktu lalu mengungkap banyak hal selama tampil dalam program ‘El Objetivo’ di La Sexta.. Pembalap asal Cervera itu membahas sejumlah isu sensitif, mulai dari pajak yang harus dibayarkan di Spanyol hingga hubungannya dengan mantan rival panasnya, Valentino Rossi.
Marc Marquez dikenal sebagai orang yang terbuka, tidak suka menyembunyikan sesuatu, omong apa adanya, seperti yang kita lihat hingga saat ini. Dalam penampilannya di ‘El Objetivo’, pembalap Ducati itu banyak berbicara seputar aspek karier balapnya..serta beberapa subjek yang lebih sensitif. Tetapi yang jelas adalah bahwa pemilik nomor 93 itu tidak bisa menahan diri, dan ia selalu memberikan pendapatnya, meski selalu disampaikan dengan cara yang sopan.
▶Daftar Isi
Marc Marquez: Saya Tak Ingin Fans Saya Menyimpan Dendam pada Rossi
Salah satu hal yang dibahas adalah pajak yang ia bayarkan untuk kontribusi jaminan sosial di Spanyol. Dalam kasus ini, kita tahu bahwa banyak atlet memutuskan untuk tinggal di Andorra untuk menghemat sebagian besar pajak mereka, tetapi Marc Marquez memiliki pendapat yang jelas tentang masalah ini: “Saya tidak akan berbohong, saya sudah pernah mencobanya (tinggal di Andorra),” katanya memulai.
“Saya mencoba karena sejak usia 15 tahun saya sering pergi ke Andorra, Cervera dekat sehingga saya sering pergi ke sana bersama orang tua saya, bahkan untuk berlatih dan tidur… Saat usia saya sekitar 22 tahun, saya membeli rumah di sana sebagai rumah kedua, dan saya mencoba tinggal di sana selama satu musim dingin penuh… Tapi hanya bertahan dua bulan saja lalu berkata, Tidak, tidak, saya akan kembali ke Spanyol, ini rumah saya,” katanya..

Marc menegaskan bahwa keputusannya untuk kembali ke Spanyol dan tidak menetap di Andorra bukan untuk menyampaikan pesan politik atau apa pun, tetapi karena itulah yang ia rasakan… “Saya tidak melakukannya untuk menyampaikan pesan tertentu. Apa yang saya lakukan di atas motor adalah untuk menyampaikan sesuatu, tetapi masalah ini (Andorra) tidak… ini karena saya merasakannya sendiri. Saya tahu betul pajak apa yang harus saya bayar dan apa yang tidak…” tandasnya..
“Kita memiliki kebebasan dalam berekspresi. Saya orang Catalunya dan saya mencintai Catalunya, tetapi saya orang Spanyol dan saya mencintai Spanyol. Saya merasa sebagai orang Catalunya dan saya merasa sebagai orang Spanyol.. Saya mengibarkan bendera Catalunya saat balapan di Catalunya karena kami ada di sana. Dan di luar Spanyol, saya mengibarkan bendera Spanyol karena itulah yang mewakili saya di luar negeri. Saya membawa bendera yang saya rasakan saat itu,” tegas Marc mengenai hal tersebut.

“Hidup dengan dendam itu sangat melelahkan”
Topik hangatt, cenderung panas lainnya adalah tentang hubungannya dengan Valentino Rossi. Pertanyaan ini tak pernah lepas dari Marc Marquez, karena rivalitas mereka selalu melekat dalam perjalanan kariernya… “Silakan tanya (tentang Rossi), itu wajar,” kata Marc sambil tersenyum kepada pembawa acara tersebut..
“Saya yakin hidup dengan rasa dendam sangat berat… Saya tidak ingin penggemar saya menyimpan rasa benci atau dendam.. saya ingin mereka menyimpan energi mereka untuk memberi tepuk tangan kepada saya dan bukan untuk hal-hal lain… Saat saya cedera, saat itu ada pembalap lain yang menjatuhkan saya (Bezzecchi di Mandalika), tapi itu murni kecelakaan karena kami semua balapan di batas kemampuan. Sayangnya, tidak semua orang bisa memahami itu,” jelasnya.

Saya tidak tahu apakah ini gelar terakhir atau bukan
Saat membahas juara dunia-nya tahun ini, Marc berbicara terus terang, memberikan gambaran yang jujur dan emosional.. “Gelar dunia sebelum-sebelumnya biasa saja… selesai satu, lanjut ke berikutnya.” Tapi saya belajar bahwa hidup bisa berubah dari satu hari ke hari berikutnya tanpa kita sadari.. Itulah sebabnay kenapa saya begitu emosional, karena saya merasakan kehampaan itu… dan karena saya tidak tahu apakah ini akan menjadi yang terakhir atau tidak..”
Perihal mengekspresikan perasaan menjadi salah satu tantangan terbesar Marc.. “Saya selalu memendam semuanya sendiri. Saya merasa sangat sulit untuk bercerita, bahkan kepada orang-orang terdekat saya, karena saya tidak suka mereka mengkhawatirkan masalah saya. Pacar saya, Gemma, dan saya sering berdebat tentang hal ini, karena saya tidak menceritakan apa pun. Bukan karena tidak mau, tapi memang saya tidak bisa (mengungkapkannya). Tapi setelah cedera, saya jadi lebih bisa mengekspresikan diri…”

Ritual ‘Nyleneh’ Marc Marquez..!!
Marc Marquez mengaku memiliki ritual tertentu atau kebiasaan-kebiasaan kecil selama balapan.. “Di sirkuit, saya menyebutnya ritual-ritual meskipun sebenarnya itu hanya kebiasaan… Yang mungkin dilihat aneh: seperti memakai celana dalam biru saat latihan, merah saat balapan… Saya memakai helm tepat pada detik yang sama, saya naik ke motor tepat pada detik yang sama… Saya selalu memakai sumbat telinga (peredam suara) sebelah kanan terlebih dahulu… dan hal-hal seperti itu. Itu membuat saya masuk ke mode kompetisi, dengan konsentrasi tinggi. Di rumah juga ada, tapi tidak se-ekstrem itu..”
Selain itu, Marc juga membahas tentang adiknya, Alex, yang musim ini sama-sama tampil menonjol..”Saya tidak bisa mengatakan itu rumit. Tentu saja saya ingin mengalahkannya, tapi kalau akhirnya adikmu yang menang, dia tetap adikmu.. Kami mengendarai motor yang sama, yang berarti kami dapat berbagi banyak informasi. Ketika saya di Honda dan dia di Ducati, kami tidak membicarakan aspek teknis karena itu tidak profesional. Sekarang kami bisa berbagi semua data dan telemetri, atau berdiskusi kalau ada keraguan. Meski begitu, masing-masing tetap punya tim teknis dan strategi sendiri…”

Namun secara jujur Marc mengakui balapan pertama melawan Alex menjadi momen yang paling sulit.. “Balapan pertama dengan Alex, beradu roda, benar-benar berat. Saat saya berada di belakang pembalap lain, kamu selalu berfikir untuk terus menyerang dan berada didepan. Dengan Alex, saya malah memikirkan risikonya (lebh hati-hati) daripada memikirkan peluang menyalip… Tapi kami segera mengatasi ini. Saya sadar situasi seperti ini akan sering terjadi, lalu saya ajak dia duduk dan bicara.”
Marc melanjutkan, “Saya bilang padanya bahwa tahun ini sepertinya kita akan bertarung sengit, kami akan saling menyalip, tetapi jika sesuatu terjadi, pada hari Senin (setelah balapan) kita tetap saudara. Kamu tidak bisa berhenti balapan hanya karena takut terjadi sesuatu. Kalau harus terjadi, ya terjadi”.
Marquez juga punya prinsip.. Suka Tekanan… kalau tidak ada tekanan, dia akan bosan. Pembalap bernomor 93 itu mengatakan bahwa sensasi deg-degan itu tidak pernah hilang, tak peduli berapa pun tahun yang sudah ia lalui.. “Saya selalu merasakan getaran itu ketika saya naik motor, bahkan meskipun poin saya sudah tak terkejar… Tapi itulah ketegangan yang dibutuhkan. Saya suka tekanan, dan ketika saya berada di bawah tekanan, saat itulah saya tampil paling maksimal dan berprestasi. Kalau tidak ada tekanan, saya malah masuk ke mode bosan,” tutup Marc Marquez.






