RiderTua.com – Untuk kalian yang rutin mampir ke RiderTua ada berita hangat cenderung kobongan… Max Biaggi merupakan salah satu sosok yang sangat dihormati di paddock. Dia merupakan Juara Dunia 250cc 4 kali, Juara Superbike 2 kali, dan salah satu pembalap yang terpilih menjadi Legenda MotoGP. Namun dia secara tidak langsung mengatakan Ducati bukanlah pabrikan Italia murni… Jadi kalau ada yang mengatakan Ducati adalah Italia, mungkin dia sedikit tidak setuju..berikut pernyataannya..
Biaggi menyoroti situasi rumit yang dialami juara dunia MotoGP 2 kali Pecco Bagnaia dengan Ducati pada 2025. Menurutnya, hal tersebut lantaran kurang tegas dan jelasnya ‘pesan’ dari Ducati. “Ada pepatah yang mengatakan bahwa ‘2 petunjuk sudah cukup dijadikan bukti’. Tapi dalam kasus ini, justru hanya ada sedikit petunjuk dan malah membingungkan. Dan ketika dimintai klarifikasi, Ducati justru bungkam sementara Bagnaia berbicara dengan bahasa yang sulit dipahami. Ini rumit, bahkan bagi kami yang berada di dalam paddcok,” ujar mantan pembalap asal Italia itu.
Max Biaggi Menyindir Ducati: Aprilia Satu-satunya Pabrikan Italia Sejati di MotoGP
Apakah akan terjadi perpecahan antara Pecco Bagnaia dan Ducati? “Saya tidak akan bertaruh untuk itu. Pabrikan selalu berusaha mempromosikan pembalap muda untuk keberlanjutan jangka panjang. Namun perlu diingat bahwa Bagnaia memiliki kontrak dengan tim pabrikan, jadi akan sulit untuk melihatnya di tim Ducati lain (tim satelit),” jawab Max Biaggi.

Sebagai Brand Ambassador Aprilia, Biaggi juga mengepresiasi kemajuan pesat RS-GP musim lalu. “Sekarang motor ini tidak lagi memiliki kelemahan. Tidak ada sirkuit yang membuat kami ‘takut’ lagi,” ujar mantan rider yang kini berusia 54 tahun itu.
Musim 2025 merupakan musim yang bersejarah bagi Aprilia. Pabrikan asal Noale tersebut membukukan 4 kemenangan dan menempati peringkat 2 di Klasemen Konstruktor, yang merupakan hasil terbaik Aprilia di MotoGP. Menurut Biaggi, kunci kesuksesannya adalah tidak lagi bergantung pada 1 pembalap. “Kami selalu bisa berada di antara 3 atau 5 besar. Dan bukan hanya dengan Marco Bezzecchi, Raul Fernandez juga telah menunjukkan bahwa motor ini bekerja bagus dengan beberapa pembalap,” tegasnya.

Secara terang-terangan Biaggi menyentil Ducati dan struktur perusahaannya. “Saya telah menjadi duta Aprilia selama hampir 10 tahun, dan merupakan suatu kehormatan besar bagi saya untuk dikaitkan dengan pabrikan ini, yang jujur saja merupakan satu-satunya pabrikan Italia sejati di paddock ini. Karena kita tahu bahwa Ducati adalah pabrikan Jerman, karena dimiliki oleh Audi,” ujarnya tanpa menyebut konflik secara langsung.
Biaggi juga memuji kerja keras Piaggio Group dan kemampuan mereka untuk bersaing di level tertinggi melawan raksasa industri. “Kami sangat bangga akan hal itu, dan Piaggio Group telah melakukan pekerjaan yang luar biasa,” imbuhnya.

Dari kata-katanya Biaggi mengajak kita melihat dengan lebih dalam makna yang tersirat. Ducati memang masih menjadi tolok ukur, tetapi tidak lagi melenggang sendirian. Aprilia telah berhenti menjadi sekedar pilihan alternatif sesaat dan secara konsisten kini berubah menjadi ancaman, sementara pasar dan dinamika internal mulai bergerak lebih cepat dari biasanya. Dari seseorang yang sudah malang melintang di dunia balap, pesan Biaggi sangat jelas bahwa di MotoGP tidak ada yang absolut.







Kalo dilihat dari kepemilikan, ndak salah. Ducati dimiliki oleh Audi (VW Group) dari Jerman. Bahkan bakal jadi ancaman keuangan. Karena Ducati hanya jualan motor besar yg pasarnya segmented. Sedangkan Audi lagi butuh2nya duit karena kini punya tim F1.
Dari sudut pandang dinamika bisnis otomotif global, sulit (bahkan ndak mungkin) bagi sebuah perusahaan utk bersikap “sok nasionalis” jika mereka ingin jadi merek global dan ingin jualan barangnya di pasar global. Anda ndak akan bisa cuan hanya jualan motor super di pasar dalam negeri doang. Utk bisa menembus pasar global, beraliansi dgn merek negara lain (demi kapitalisasi dan efisiensi) adalah keniscayaan.