RiderTua.com – Salam satu aspal buat pembaca setia RiderTua & penggemar MotoGP sekalian, sebagai seorang bintang MotoGP, Marc Marquez jelas tidak bisa lagi tampil sebagai orang ‘bebas’ pada umumnya. Aktifitasnya baik di dalam trek maupun diluar lintasan kerap menjadi sorotan.
Sebagai pembalap atau sebagai orang biasa di luar lintasan, apa saja aktifitasnya sehari-hari? “Cedera atau tidak cedera? Biasanya saya bangun sekitar jam 8 pagi. Tetapi pada jam 10 malam saya sudah tidur terutama saat balapan, tetapi juga saat tidak balapan. Saya juga sudah mengatur jadwal pacar saya (Gemma Pinto),” jawab Marquez sambil tertawa.
Marc Marquez: Ketika Membuat Planning Bersama Teman-teman Saya, Kami Juga ‘Urunan’ Kok!
Marc Marquez melanjutkan, “Setelah sarapan saya latihan kardio dan di sore hari saya pergi ke gym sekitar pukul 4 sore. Saya sangat teratur dengan jadwal saya. Orang di rumah tahu bahwa saya makan siang pukul 2 siang dan makan malam pukul 9 malam, tanpa banyak tanya.”
Sebagai pembalap, Marc Marquez sering sekali mengalami cedera. Seberapa tinggi tingkat toleransi rasa sakitnya dan bagaimana caranya menghadapi rasa sakit? “Toleransi rasa sakit saya tinggi, sangat tinggi. Itu sering membantu saya, tapi di kesempatan lain justru merugikan saya karena membuat cedera tampak lebih serius daripada yang sebenarnya,” jawab juara dunia 9 kali itu.

Marquez mengaku bahwa dia harus terbiasa hidup dengan rasa sakit atau dampak tertentu dari cedera yang dia alami. “Ketika ada yang bertanya kepada saya, ‘bagaimana kabarmu atau apakah kamu kesakitan?’ Saya selalu menjawab, ‘saya hidup berdampingan dengan rasa sakit itu’. Kita tahu, ada hal-hal yang tidak bisa kita lakukan seperti gerakan tertentu atau tidur miring ke kanan karena kita akan kesakitan ketika terbangun. Seperti padel, saya tidak bisa sering-sering melakukannya karena saya akan merasa nyeri selama beberapa hari setelahnya. Jadi ini tentang belajar hidup, dengan itu semua saya bisa tampil maksimal di atas motor,” ungkap rider berusia 32 tahun itu.

Kesehatan mental adalah salah satu aspek terpenting bagi semua atlet top. “Sepanjang hidup, saya sangat beruntung memiliki lingkungan yang sangat sehat. Orang-orang yang sama, orang-orang yang dapat memberi tahu kita hal baik dan buruk. Mungkin awalnya kita tidak terima jika dikritik. Tetapi ketika kita merenungkannya, kita pasti akan mempertimbangkan kembali. Penting agar lingkungan kita bebas untuk memberi tahu kita semuanya. Jika tidak, itu bukan lingkungan tapi mereka adalah budak,” tegas Marc Marquez.
Lebih lanjut The Baby Alien menambahkan, “Kita butuh seseorang agar kita tetap rendah hati. Bukan setiap hari tetapi hanya kadang-kadang, agar saya bisa sedikit menahan diri atau mengelola hal-hal dengan lebih baik. Pada usia 32 tahun hal-hal semacam ini bisa kita pahami tetapi pada usia 25, 26, atau 27 tahun belum tentu bisa paham.”
Sebagai juara dunia 9 kali, bagi Marc Marquez tekanan ibaratnya sudah menjadi makanannya sehari-hari. “Tekanan terbesar bagi saya adalah melihat satu pabrikan penuh bekerja untuk saya. Dalam balapan selama 45 menit, keberhasilan atau kegagalan dari semua kerja keras mereka sangat bergantung pada kita. Saya seperti dua orang yang berbeda, ketika saya berada di atas motor dan ketika saya di luar lintasan. Di atas motor atau dalam balapan, saya berada dalam ‘mode autopilot’. Itulah sebabnya, kadang-kadang hal yang sama juga terjadi saat berhadapan dengan pers selama Grand Prix,” ungkapnya.

Kecelakaan selalu meninggalkan ‘bekas’ pada pembalap, bahkan terkadang justru mengancam masa depan mereka. “Kecelakaan parahlah yang benar-benar membekas. Banyak pembalap yang baru datang ke MotoGP lalu beberapa kali terjatuh dan seolah-olah mereka lupa cara mengendarai sepeda motor. Itu jelas membekas. Crash menunjukkan batas kemampuan pembalap, dan itu bukanlah cara yang benar. Tetapi pada akhirnya kita selalu mencoba untuk gas pol hingga batas kemampuan,” ujar Marquez.
Rider asal Cervera Spanyol itu menambahkan, “Kami sadar bahwa kami mempertaruhkan nyawa kami, meskipun kami tidak suka membicarakannya. Ini adalah topik ‘tabu’. Tetapi ketika kita bersantai di rumah dan merenung, kita sadar bahwa kita melaju dengan kecepatan 300 km/jam dan mempertaruhkan nyawa kita, meskipun ada banyak area run-off di sirkuit.”
“Biasanya ketika saya jatuh, hal pertama yang saya lakukan adalah melihat di mana motor saya berada. Itu bisa jadi kekuatan sekaligus kelemahan saya. Karena ketika saya jatuh, saya tidak melepaskan motor. Karena kalau tidak, kita tidak bisa melanjutkan balapan. Tetapi ketika kita jatuh dan cedera, kita langsung tahu sejak detik pertama. Kita langsung memegang bagian tubuh kita dan mengeluh ‘aduh’,” imbuh juara dunia MotoGP 7 kali itu.

BTW, Marc Marquez mengaku bahwa dirinya suka tampil sederhana dan dia adalah tipe orang yang tidak ingin terlalu menonjol, meskipun terkadang hal itu tidak mungkin. Meski begitu, dia sadar betul bagaimana harus bersikap dengan orang-orang di sekitarnya. “Ketika saya membuat planning bersama teman-teman, saya selalu mencoba untuk memastikan mereka tidak merasa tidak ‘enak hati’ karena perbedaan kondisi keuangan. Misalnya saat liburan musim panas, saya yang menyediakan vila dan mereka akan menanggung hal-hal lainnya. Begitu juga dengan pacar saya. Itu adalah hal-hal alami yang muncul begitu saja. Ini adalah kesepakatan bersama yang dibuat tanpa perlu dibicarakan,” ungkap rider tim pabrikan Ducati Lenovo itu….
Saat memilih meninggalkan Honda, Marquez kehilangan gaji yang mencapai ratusan miliar rupiah per tahun. Gajinya di Honda mencapai 12 juta Euro per tahun atau sekitar Rp 235 miliar lebih.

“Saya selalu berpikir bahwa sebanyak apa pun uang yang kita miliki, waktu tidak bisa dibeli. Dalam kehidupan yang normal-normal saja, saya tidak akan menghabiskan semua uang saya. Mengapa saya menginginkan lebih? Semua orang menyukai uang, semua orang punya ‘harga’, dan siapa pun yang bilang tidak adalah bohong. Tetapi waktu yang telah kita habiskan, tidak akan dapat kembali. Saya tidak berdamai dengan diri sendiri, saya tidak bisa hidup dengan kegelisahan itu, dan terus-menerus mempertanyakan diri sendiri. Jika saya merasakannya, saya melakukannya,” pungkas kakak Alex Marquez (tim Gresini Ducati) itu.






