RiderTua.com – Mobil BEV yang dijual di Indonesia sudah tidak lagi mendapatkan insentif sejak awal tahun ini. Tapi disebutkan akan ada penggantinya, meski dengan persyaratan yang lebih spesifik dari sebelumnya dan berkaitan dengan jenis baterai yang dipakai.
Jenis Baterai Mobil Listrik Mulai Jadi Pertimbangan Insentif
Kalau diperhatikan, mobil listrik yang dijual disini rata-rata memakai jenis nikel, walau ada juga yang memakai jenis lainnya seperti LFP (lithium ferro phosphate). Meski kebanyakan memakai baterai nikel, sudah ada beberapa merek yang memakai baterai LFP karena dianggap lebih aman. Seperti BYD yang menggunakan jenis LFP untuk Blade Battery pada sejumlah model BEV-nya.

Mungkin tidak ada yang menyangka kalau jenis baterai ini bisa menjadi pertimbangan untuk insentif BEV selanjutnya. Mungkin kedengarannya agak aneh, sebab kalau melihat dari keamanannya, baterai LFP lebih aman dari nikel, tapi justru baterai ini yang mendapatkan keringanan harga lebih kecil ketimbang baterai nikel. Apapun itu, sepertinya ini akan menguntungkan mobil baterai nikel yang kebanyakan masih meramaikan pasarnya.
Walau demikian, sebenarnya tidak hanya jenis baterai yang dipertimbangkan untuk mendapatkan insentif. Tetapi juga bobot mobil hingga banyaknya komponen lokal yang dipakai untuk merakit mobil ini, dan biasanya kalau makin banyak komponen lokal pada suatu mobil, makin besar keringanan harganya. Ini tentu bukan menjadi sesuatu yang mengejutkan, mengingat insentif sebelumnya juga memberikan insentif untuk mobil rakitan lokal dengan 40 persen atau lebih TKDN (tingkat kandungan dalam negeri).

Insentif Berbasis Karbon
Sepertinya terdengar cukup rumit, dan sebenarnya insentif ini bisa memakai regulasi emisi karbon yang dihasilkan mobil. Tentu saja insentif ini tidak hanya berlaku untuk mobil listrik saja, tetapi juga mobil hybrid, PHEV, hingga bensin dan diesel yang dijual disini. Dengan begitu, penjualan di pasar roda empat bisa diselamatkan setelah sempat terpuruk sepanjang tahun lalu.

Tapi untuk sekarang mobil listrik yang diprioritaskan terlebih dahulu. Tentunya agar penjualannya bisa ditingkatkan lebih jauh setelah mencapai rekor penjualan di tahun 2025.






