RiderTua.com – Fabio di Giannantonio memulai debutnya di MotoGP bersama tim Gresini pada 2022 dengan didampingi kepala kru Donatello Giovanotti (sekarang menjadi kepala kru Alex Marquez). Setahun kemudian, kepala krunya diganti Frankie Carchedi (sekarang kepala kru Fermin Aldeguer). Setelah musim buruknya pada 2023, dia nyaris terdepak dari MotoGP tapi kemudian ‘diselamatkan’ oleh tim VR46 milik legenda Valentino Rossi.
Setelah pindah ke tim VR46 Ducati, Diggia didampingi David Munoz yang merupakan mantan kepala kru Rossi dan adiknya Luca Marini pada 2024. Tapi Munoz harus kembali ke tim pabrikan Yamaha dan menjadi kepala kru Alex Rins pada 2025. Dan Diggia pun didampingi Massimo Branchini hingga sekarang. Branchini bergabung di tim VR46 setelah tim Pramac pindah ke Yamaha. Sebagai informasi, Branchini merupakan kepala kru yang berhasil membawa Casey Stoner, Johann Zarco, Remy Gardner, dan Augusto Fernandez meraih gelar dunia Moto2.
Fabio di Giannantonio: Pertama Kali Bertahan dengan Kepala Kru yang Sama, Ini Menciptakan Stabilitas
Kolaborasi Fabio di Giannantonio dan Massimo Branchini pada 2025 menghasilkan 9 podium (4 dalam race utama dan 5 dalam Sprint race) dan sukses menempati peringkat 6 dalam klasemen akhir. Namun sayangnya, inkonsistensi Desmosedici GP25 merusak musim Diggia.

Rider asal Roma Italia itu menjelaskan, “Setiap kali staf di dalam tim berubah, itu bisa membantu kalau katakanlah mereka memiliki pengetahuan yang lebih baik. Tetapi tetap sulit, karena perubahan apa pun yang dilakukan, awalnya kita akan mundur empat atau lima langkah baru kemudian bisa maju.”
“Jadi yang pasti, dengan Massimo kami masih dalam tahap saling mengenal. Kami terus meningkatkan rasa saling memahami satu sama lain. Dan kami juga yakin, untuk tahun depan kami sudah memiliki pengalaman dari situasi yang telah kami alami sebelumnya, sehingga kami bisa langsung melangkah maju dari sana,” imbuh rider berusia 27 tahun itu.

Sama seperti yang dikeluhkan Pecco Bagnaia, Diggia juga kesulitan dalam menemukan feel yang baik pada bagian depan GP25. “Tetapi hal utama dari musim ‘roller coaster’ (naik turun) kami adalah, pada akhirnya feel pada motor tidak konsisten. Hal tersebut membuat semuanya menjadi sangat sulit. Tetapi dari sisi kerja tim, saya rasa kami melakukan pekerjaan yang luar biasa karena kami selalu berada di jalur dan tujuan yang sama,” tegas Diggia.
Menjelang akhir musim, manajer tim VR46 Pablo Nieto menjelaskan bahwa tim VR46 mencoba mengubah cara kerja di garasi Diggia. “Terkadang sangat sulit untuk menemukan keseimbangan antara pembalap, kepala kru, dan orang yang bertanggung jawab atas data. Menemukan keseimbangan yang baik membutuhkan waktu dan terkadang kita juga harus mengubah sesuatu. Ini bukan sistem baru, hanya cara kerja yang berbeda, dan tampaknya sedikit lebih baik,” pungkas putra dari legenda Angel Nieto itu.







