Ketika Yamaha Semakin di Depan, Lawan Akan Ketinggalan..!

0
Lebih 1 Dekade, Hattrick Yamaha di 3 Seri Perdana

RiderTua.com – Sirkuit Losail tetap menjadi trek yang baik bagi Yamaha dengan 16 tikungannya. Meskipun jarak ‘home straight’ atau trek lurus 1.068 meter membuat Yamaha tak mampu menbendung kekuatan Ducati yang unggul di trek lurus. Seperti tahun 2017, Maverick Vinales berhasil memenangkan balapan pertamanya dengan Yamaha di GP Qatar-1. Ketika Yamaha tidak terhalang motor lain saat mengeluarkan ‘ajian cornering speed’nya, lawan akan dibuat tak berkutik meskipun punya top speed mengerikan.. Sedikit demi sedikit akan bisa meninggalkan lawan.. Ibarat ketika Yamaha semakin di depan, lawan akan ketinggalan.. Kekuatan Yamaha adalah mengerem dengan keras (hard braking), berhenti dalam waktu singkat, melepaskan rem dan melewati tikungan dengan sangat cepat. Jika tekanan pada ban depan meningkat, Yamaha M1 akan kehilangan tenaga di area ini. Ini berarti M1 tidak dapat menggunakan titik kuat mereka untuk menikung dengan mulus dan secepat kilat (cornering speed). Itulah sebabnya, para pembalap Yamaha di barisan depan harus lolos dari lawan (tidak dibelakang motor lain), agar punya udara segar di depannya supaya ban depan ‘tetap sejuk’. Bukan kebetulan jika ke-7 kemenangan Yamaha di musim 2020, setelah lolos dari barisan depan. Jika berada di belakang motor lawan dan tidak mampu menyalip.. Alih-alih semakin di depan, mereka semakin ke belakang..

Ketika Yamaha Semakin di Depan, Lawan Akan Ketinggalan

Fabio Quartararo memulai musim 2020 dengan meraih dua kemenangan berturu-turut. Tetapi sayang, diakhir musim dia merosot tajam ke posisi 8 di Kejuaraan Dunia MotoGP. Itulah sebabnya, saat memetik kemenangan di GP Qatar-2 hari Minggu lalu dia diliputi emosi. Dia terlihat sangat menikmati saat menyanyikan lagu kebangsaan Prancis bersama Zarco, rekan senegaranya  di podium.

Sirkuit Losail Qatar memang benar-benar ‘sirkuit’nya Ducati. Di sirkuit ini, The Reds sangat mendominasi baik saat tes pramusim atau pun saat balapan. Keunggulan Ducati di GP Qatar dibuktikan setelah keempat pembalapnya mampu berada di barisan depan. Di GP Qatar kemarin, mereka memiliki empat pembalap di tiga baris pertama. Namun sayang mereka gagal meraih kemenangan ketiga berturut-turut di Qatar. Yakni kemenangan yang dibukukan Andrea Dovizioso pada 2018 dan 2019 (musim 2020 GP Qatar ditiadakan).

Ducati merayakan kemenangan pada 28 Maret di Sirkuit Losail dengan memperebutkan tempat ke-2 dan ke-3 oleh Johann Zarco dan Jack Miller. Dan pada balapan kedua, Zarco kembali naik podium setelah finis di tempat ke-2 dan tempat ke-3 oleh Jorge Martin. Selain itu, Johann Zarco kini menjadi pemimpin sementara klasemen di Kejuaraan Dunia. Pramac gagal meraih kemenangan pertama. Meski begitu, duo pembalap pabrikan Ducati Pecco Bagnaia dan Jack Miller harus mengaku kalah dari tim satelit Pramac.

Yamaha menang di Qatar pada 2005 dan 2006 bersama Valentino Rossi. Lalu pada 2010, 2012 dan 2013 dengan Jorge Lorenzo. Kemudian pada 2015 bersama Rossi lagi, 2016 bersama Lorenzo dan 2017 ganti Vinales yang memenangkannya. Pada tahun 2020 balapan ditiadakan. Dan di musim 2021, Yamaha berhasil membuktikan kedigdayaannya setelah menjuarai GP Qatar-1 bersama Vinales dan GP Qatar-2 dengan Fabio Quartararo.

Quartararo mengatakan, “Saya belum menang sebanyak itu. Itu pasti akan menjadi kemenangan istimewa. Bagaimanapun, saya naik dari posisi 8 atau 9.”

Setelah tampil mengecewakan karena hanya finis di tempat ke-5 dalam balapan pertama Losail pada 28 Maret, ‘El Diablo’ ingin mengambil kesempatan di balapan kedua. Dia menggambarkan fase terakhirnya, “Saat saya melihat Maverick di depan saya, lalu saya berpikir, ‘Sekarang saatnya telah tiba! Giliranku untuk menang minggu ini!'”

Fabio menjelaskan lagi, “Dan kemudian aku keluarkan semua power yang aku miliki. Saya memilih momen yang tepat untuk menyerang. Saya merasa luar biasa. Jadi saya bisa menyalip Johann dan beberapa saat kemudian juga bisa mengejar Jorge Martin.”

Dalam 4 atau 5 lap terakhir, pembalap Monster Yamaha melaju konstan 1: 55,1 menit. Itulah satu-satunya cara untuk mengendalikan ‘torpedo-torpedo’ Ducati di trek lurus.

 

Leave a Reply