[Intake Air Pressure Sensor] Kenapa Pada Injeksi PGMFI step 4 Honda di hilangkan…???

Intake Air Pressure Sensor (IAPS) berfungsi membaca tekanan udara yang masuk,dibaca terlebih dahulu untuk kemudian dilaporkan ke Engine Control Module (ECM) istilah ini dipakai pada motor Suzuki dan Yamaha..CMIIW….. kalau tidak salah tekanan udara juga dipengaruhi oleh ketinggian sehingga IAPS ini berguna saat perbedaan tekanan udara drastis dari dataran dan ketinggian….Nah kalau di Honda dikenal dengan istilah Manifold Absolute Pressure (MAP) fungsinya untuk mendeteksi tekanan udara dalam intake manifold, dimana Informasi ini kemudian menjadi acuan Electronic Control Modul (ECM) menentukan banyak sedikitnya bahan bakar yang disemprotkan oleh injektor agar komposisi udara dan bensin selalu ideal.

Untuk injeksi versi 4 Honda(step4) Honda Supra X 125 PGM-FI, Spacy Helm In PGM-FI dan Vario Techno 125 PGM-FI…sensor MAP dan sensor suhu ini dihilangkan dan digantikan dengan Crankshaft Position (CKP) dan O2 Sensor( menurut teknisinya fungsinya bisa digantikan) namun mengacu pada artikel RT vario harus setting altitude  artinya fungsi itu belum tergantikan dong…??? kalau RT tidak salah mengartikan settingan ini akan berubah jika selisih dari tempat asal ±2.000m … artinya perlu ubahan setting jika mau naik gunung saja…

Ada beberapa kemungkinan:

  • Penyederhanaan sensor sesuai untuk jarak tempuh komuter bike (sensor ini bakalan jarang difungsikan) sehingga setting manual… btw berapa kali mau naik gunung? :mrgreen:
  • Memang ada setting ECM untuk fungsi ini (hanya insinyur Honda yang tahu) karena injeksi step 4 ini lebih sempurna/advance dibandingkan versi sebelumnya (Honda PCX 125 dan CBR 250R.)
  • Cost Reduction..
Catatan: untuk suzuki nex dan Yamaha mio ada sensor Intake Air Pressure Sensor (IAPS)

♥Kalau altitude abang di hati kamu, seberapa tinggi yaa…

*Beberapa dari tulisan berdasarkan referensi dan lainnya merupakan opini pribadi RT..bagi yang lebih ngerti teknis silakan berdiskusi disini….

Tentang iklan-iklan ini

Tentang ridertua

KeepBrotherhood & Peace
Tulisan ini dipublikasikan di HONDA dan tag , , , . Tandai permalink.

162 Balasan ke [Intake Air Pressure Sensor] Kenapa Pada Injeksi PGMFI step 4 Honda di hilangkan…???

    • ibun berkata:

      New motto: Ride The Cost Reduction..!

    • Dide berkata:

      sy koreksi sedikit ya mbah !!!

      >> tekanan udara tidak hanya dipengaruhi tinggi rendahnya tempat dari permukaan laut
      >> tekanan udara juga dipengaruhi oleh suhu
      __1. Daerah yg panas mempunyai tekanan udara yg rendah
      __2, Daerah yang dingin mempunyai tekanan udara yg tinggi

      perbadaan tekanan udara antar suatu tempat dengan tempat lainnya inilah yg menyebabkan udara bergerak yang kemudian disebut angin

      jadi gejala ngempos pada vario wtf bisa juga terjadi di daratan rendah ataupun tinggi , siang ataupun malam tergantung suhu

      *dah gitu aja

      • masdikin berkata:

        Maaf masbro ikutan komen dikit….
        Bukannya kenaikan temperatur sebanding dengan kenaikan tekanan. artinya kalo suhu naik, tekanan juga naik.
        Mungkin maksudnya dengan kenaikan suhu kerapatan partikel udara berkurang, sehingga jumlah massa udara juga berkurang, akibatnya komposisi udara dan bahan bakar berubah. tapi tetep aja suhu naik, tekanan ikut naik.

      • vario125 berkata:

        ikut nimbrung juga bro
        sepengetahuan saya, secara fisika, keadaan udara ini memiliki perbedaan antara di dataran rendah dan tinggi. makanya lapisan udara (atmosfir) ini terdiri dari beberapa bagian, tergantung tinggi rendahnya. udara di dataran rendah lebih mampat dibandingkan udara di dataran tinggi karena udara di dataran tinggi akan menekan ke bawah sesuai gravitasi bumi. lebih mampat sama dengan lebih banyak kandungan udaranya

      • vario125 berkata:

        @Dide
        sedikit ralat nih bro. tekanan udara di dataran tinggi lebih rendah dibandingkan di dataran rendah. hal ini karena pengaruh gravitasi bumi. mengenai panas, partikel udara di dataran tinggi lebih sedikit dibandingkan partikel udara di dataran rendah. hal ini menyebabkan udara di dataran rendah lebih panas dibandingkan di dataran tinggi. panas tersebut diperoleh dari sinar matahari. kemampuan menyerap panas dari matahari oleh udara tersebut sangat dipengaruhi oleh kandungan partikel udara. maka udara di dataran tinggi lebih dingin dibanding di dataran rendah

  1. thole berkata:

    ditambahin, kalo mau setting rpm/langsam/iddle cukup pake obeng? whaaat?? injeksi pake obeng?wkwkwk :lol:

      • bdt berkata:

        kalu di begkel pedesaan pake laptop, yach dibilang canggih lah, wong jarang yg pake laptop

        di jakarta anak 6 tahun aja dah main laptop, jadi dah ngak aneh

      • vario125 berkata:

        saya blm pernah lihat mekanik AHASS bawa laptop. tapi kalo bawa kayak hp itu pernah. kemungkinan emang software untuk laptop gak ada kali yak..??

    • bdt berkata:

      yach giman mau perbaiki, wong sotwarenya ndak di kasih?????

      kalu bengkel yamaha khan softwarenya dikasih parikan, yach mekanik mah tinggal input data sesuai rangge yg diberikan pabrikan pake laptop.

      kalu kita punya softwarenya, ndak perlu ke bengkel, di set sendiri aja, tapi khan nanti mekanik gimana? pemasukan berkurang dong

    • looking around berkata:

      kalo kata thole : lihat dong injeksi yamaha yang canggih , dimana setiap 3000 km perlu di semprot carbon cleaner (1 botol : Rp 21.000) untuk injeksinya :mrgreen: …. dalam 2 tahun naik injeksi yamaha gua koleksi puluhan botol carbon cleaner :D , lama lama motor injeksi 4 tak seperti 2 tak yang perlu keluar uang untuk oli samping :D

      • Crank90 berkata:

        akh mossoookk!!! carbon cleaner kan baru2 ini aja munculnya!!! 4tahun tuh motor Vixi injeksi ane belum pernah di kasih carbon clener!!! dan sampe skarang mesin n injeksinya masih Josss Gandossss…

      • vario125 berkata:

        carbon cleaner kayaknya bisa untuk semua merk motor deh bro…

      • Crank90 berkata:

        bukan kayanya lgi bro! emang karbon clener buat semua motor…tujuannnya kan untuk membersihkan injektor dan ruang bakar yng kotor krna menggunakan bensin kualitas rendah sprti premium….Yamalube carbon clener juga bisa di pake untuk semua merek motor yng sudah injeksi untuk H, S, K tinggal beli aja klo mau ke diler Yamaha, nggak usah bawa photocopy KTP n STNK!
        tapi motor Vixion ane dah 4tahun belum pernah tuh pake carbon clener, tapi mesin dan injeksinya msih JOSS GANDOSSS

      • Dide berkata:

        carbon cleaner kan bukan suatu keharusan tergantung konsumen juga mau pake atau engga

    • hohehoheho berkata:

      klo pgm fi gen 3 ga pake obeng buat nyetel lansam bos,kan pake iacv idle air control valve(cbr 250,150,pcx,revo at)langsam otomatis,

  2. ANDRI berkata:

    mesin yang payah

    pgmfi (Pergi Gunung Mesti setting Fuel Inkejaction)

  3. big_bang berkata:

    downgrade..

  4. bdt berkata:

    makasih pak rt, barusan baca penjelasanbro inazuma eleven dan ben spiess di blog iwb.
    sedikit paham karena saya juga mengetahui apa yg namanya control filosopi kerja sebuah alat.

    dari penjelasan kedua org tsb memang fgmi honda di cbr , supra fi awal dan pcx beda dgn yg sekarang.

    fgmi awal merupakan sistem fully outomatic injeksi system, dimana banyak sensor yg bekerja membaca berbagai data, sehingga memang ndak perlu diservice/ diset ulang pake laptop kalu ke bengkel, program dah diset di Progamable Logic controller ( PLC) kalu di motor ECU yach.

    u/ memasyaratkan injeksi, karena pgfmi honda mahal karena banyak sensor tsb, beberapa sensor di hilangkan, sehingga filosopi kerja FGMI yg sekarang tdak lagi fully Outo, tapi menjadi semi outomatic, artinya u. kondisi tertentu dia musti di program lagi sesuai kondisi yg ada, tentunya yach pake laptop.

    kemungkinan data-data yg diprogram di fgmi yg baru, belum memenuhi kondisi rata-rata geograpis daerah indonesi pada umumnya, mungkin sebagian ambil data kondisi thailand yg memang mirip, tapi tdk semua .

    sehingga kalu kebetulan tinggal di daerah yg datanya tdak mendekati data yg diprogram oleh pabrikan, maka akan timbul masalah.

    jadi yach ahm mesti mengumpulan data -data lagi yg mendekati nilai kondisi geograpis indonesia

    kalu ymi-jet sptnya dari awal keluar filosopi kerja semi auto, artinya u. kondisi tertentu dia mesti di program , namun jika data awal yg dimasukkan pabrikan sudah mendekati rata-rata data kondisi di indonesi, yach ngak perlu di set ulang

    • ridertua berkata:

      biasanya tiap dealer sudah ngerti berapa ketinggian tempat tinggal konsumen dari permukaan laut (dpl)… kecuali mekaniknya orang asing… :)
      *kalau tidak sesuai gejalanya keceptan mentok kira2= 60 kpj..

      • bdt berkata:

        belum tentu pak rt,
        dan berapa range data yg diberikan oleh ahm ke dealer

        masalahnya khan data yg di input angka minimal atu maksimal, semakin banyak rangge datanya, semakin baik, misal 1000, 2000, 3000, 4000, 5000 dst.

        kalu rnbgge datany 1000, 5000, 10000, 15000 dst, yach ngak bagus, karena ke akuratan pembacaan pengkuraannya jadi tidak bagus

      • ridertua berkata:

        Seperti dealer di tempat saya..yang beli orang sekitar kota saja… diluar itu sudah ada diler lagi…

      • bdt berkata:

        *kalau tidak sesuai gejalanya keceptan mentok kira2= 60 kpj..
        —————————————————————————-
        artinya, data yg di input tdk sesuai dgn data kondisi di sekitarnya, artinya data yg ada di ECU itu rangenya di bawah atau di atas data yg ada di ECU

      • ANDRI berkata:

        ketika test motor baru sampai 50..000 km rasae yamaha da selesaikan masalah ini

  5. bdt berkata:

    wah dah nulis panjang lebar kok ilang yach

  6. bdt berkata:

    thankyou pak rt.

    setelab baca komen bro ben spiess dan inazuma, saya dah ngerti, kebetulan sedikti ngerti control filosopy.

    artinya memang injeksi pgmi honda awal lebih canggih karena banyak sensor, artinya systemmnya bekerja secara fully automatic., di motor cbr pcx dan supra lama, otomatis free maintenance, ngak perlu bengkel setting lagi pake laptop. wong dah ECU dah diprogram dari pabrikan

    u/ mereduksi biaya, beberapa sensor dihilangkan, namun diganti oleh sensor yg bisa bekerja menerima beberapa data, misal suhu dan temperatur dak ketinggian jadi satu sensor.

    namun pada saat di program data yg di input, bisa saja data geograpis thailand , yg memang sedikit sama.

    namun kenyataan dilapangan berbeda, sehingga timbul masalah, nah otomatis ECU mesti diprogram ulang, sialnya ahass ndal punya software tsb, jadi timbul keadaan seakan akan, ahass belum siap injeksi.

    beda dgn injkesi yamaha, yg dari awal kerjanya memang semi outomatic, data yg di input di program berdasarkan data-data geograpis ina sepenuhnya, jadi ngak timbul masalah.

    pinternya yanaha, bengkelny di berikan software u/ mengupdet data jika memang ada masalah, mekanik tinggakl set ulang angka tuh di software.

    org awan jadi beranggapan injkesi yamha lebih canggih, karena setting pake laptop.

    padahal kalu mau rubah data di program, yach mesti pake laptop, ngak mungkin pake obeng khan

  7. galau berkata:

    dihilangin biar ngirit ongkos produksi. 1 barang harganya berapa? terus dikalikan berapa juta barang…

  8. bdt berkata:

    kalu beberapa sensor pengukuran di gabung jadi satu sensor, berdasarkan pengalaman, akan sering error pembacaanya

    jadi yg ideal itu memang satu type pengukuran satu sensor, lebih safety, kalu rusak ngak mesti ganti satu set, cukup yang rusak aja, tapi yach jadi lebih mahal aja

  9. vario125 berkata:

    maksudnya step 4 lebih sempurna dibanding sebelumnya gmn pak RT..?? sensor berkurang kok malah lebih sempurna..?? gak mudeng mode on

    • ridertua berkata:

      yah itu menurut klaim pabrikan… [bukan dengan maksud membela ya] banyak belum tentu lebih bagus (kasus lain)… entah yang diutak-atik apanya RT juga gak dikasih tau :D

      • bdt berkata:

        dari sisi pengabungan beberapa sensor jadi satu sensor itu benar, tapi tiu tadi, riskan error pembacaaannya.

        ngak tau yach kalu merknya yg mahal ntu sensor, yg kelas erofa aja error kok

  10. Kevin Leonhard berkata:

    biar murah..

  11. dara berkata:

    Hemat…………

  12. lebih canggih dari pada EPI FI dan YMJET FI…
    kalo kata kutangers YMJET FI lebih inferior dari pada PGM FI, tapi kok ketika kang taufik bahas YMJET FI, artikelnya sepi kutangers yah?

  13. bdt berkata:

    vario125 berkata:
    24 Oktober 2012 pada 10:28 am

    saya blm pernah lihat mekanik AHASS bawa laptop. tapi kalo bawa kayak hp itu pernah. kemungkinan emang software untuk laptop gak ada kali yak..??
    ——————————————————————————————-
    yach jelas ngak pernah, wong sotwarenya ndak di kasih.

    ngerubah input data khan mesti ada software plus laptop ( pada umunya yach)
    kalu ECU nya ada modul u/terima sms, bisa aja kita idupkan dan matikan motor pake sms hp

    • ridertua berkata:

      setting Injeksi pakai SMS WOW…
      *kaburrrrrr …….. :lol:

      • bdt berkata:

        nah ini lagi saya mau tanya saya org PLC, bisa tidak setting data pake hp.

        kalu idup/matikan rotating equipment pake sms hp mah dah biasa

      • vario125 berkata:

        sedikit pengetahuan soal PLC (siemens) di tempat kerja, gak bisa setting menggunakan HP bro. harus dijalankan/diinputkan oleh operator (untuk saat ini)

    • vario125 berkata:

      berarti kan pada dasarnya sistem injeksi sama saja. asal ada softwarenya maka mekanik akan membawa laptop kan..?? jadi jika dikaitkan soal canggih tidaknya (berkaitan dengan penggunaan laptop), rasanya sama saja. jika mekanik yamaha pakai laptop (karena punya softwarenya), maka mekanik honda juga akan memakai laptop (jika punya softwarenya)

    • vario125 berkata:

      tambahan, sepengetahuan saya, mekanik ahass untuk merubah mode (gak tau mode apaan), tinggal memainkan bukaan gas bro (gak pake laptop), jika bukaan gas itu dinamakan inputan. sedangkan yang kayak hp itu cuma untuk bacaan doang.

      • bdt berkata:

        bisa jadi alat itu u/ mengukur berapa kandungan gas yg keluar dari bukaan gas tsb.
        khan pgmi filosopinya membuat campuran yg ideal antara udara dan bensin

      • vario125 berkata:

        rasanya cara kerjanya bukan gitu sih bro. kayaknya nih, misal pada bukaan penuh sekali maka masuk mode 1, trus bukaan gas penuh kedua masuk mode 2, dan seterunya. bukan soal campuran ideal. cmiiw

    • vario125 berkata:

      walah komenku ilang. tak ulang lagi. sepengetahuan saya, mekanik ahass kalo mo merubah mode (gak tau mode apaan), pakai bukaan gas bro. apakah bukaan gas itu bisa disebut sebagai inputan..?? sedangkan yang kayak hp itu cuma untuk baca data doang. cmiiw

  14. haNdoC berkata:

    brati nek setingan dataran rendah dibawa ke dataran tinggi jadi ngempos dan nyendat ya pa???
    kemaren vario tak bw ke tawangmangu trz tak roso nyendat pak…

  15. bdt berkata:

    vario125 berkata:
    24 Oktober 2012 pada 10:28 am

    saya blm pernah lihat mekanik AHASS bawa laptop. tapi kalo bawa kayak hp itu pernah. kemungkinan emang software untuk laptop gak ada kali yak..??
    ——————————————————————————–
    itu kemungkinan alat ukur /tester , tapi ndak tau alat ujur u/ apa

    • hohehoheho berkata:

      itu namanya hids bos,honda injeksi diagnostic tools,alat buat reset ecm,n bisa menetahui sensor2 mana yg bermasalh dgn kode numeric,misal suhu derajat celcius,putaran mesin rpm dll masih banyak lagi,juga bisa mengetahui kedipan mil(mal function indikator lamp),tiap kedipan ada arti error di sensor apa,maklum saya sering main ke ahass,

  16. bdt berkata:

    vario125 berkata:
    24 Oktober 2012 pada 10:52 am

    sedikit pengetahuan soal PLC (siemens) di tempat kerja, gak bisa setting menggunakan HP bro. harus dijalankan/diinputkan oleh operator (untuk saat ini)
    ———————————————————————————
    kita pernah pake plc yg ada modul terima sms, dimana org yg kompeten bisa idupkan mesin pompa dgn kirim sms langung ke modiul yg ada di plc

    • vario125 berkata:

      kalo hanya tinggal on/off sih gampang. yang agak repot itu kan memasukkan inputan untuk penyesuaian. artinya input tersebut akan selalu berubah nilainya. nah yang membuat nilainya berubah itu kan harus dipasang suatu alat (sensor). gak bisa jika hanya memakai inputan doang (tidak bisa sempurna)

    • kalo setting pake iPad pernah liat. kalo SMS kekx belom. pake IC apaan tuh?

    • ben piss berkata:

      Ikut nimbrung walau oot…. :)
      Secara teknis, meng-on/off peralatan menggunakan sms itu mudah Bro.
      Tapi filosofi control peralatan bukan asal show off kecanggihan saja.
      Banyak variable yang harus dipertimbangkan.
      Misalnya kebutuhan operasi, maintenance, safety, dll.
      Sebelum memutuskan memakai sms untuk on/off suatu equipment, pertimbangkan banyak hal, salah satunya:
      – Safety: Jangan sampai ada orang yang dekat atau bahkan menyentuh equipment tersebut saat off. Kalau ada yang meng-on-kan pakai sms jarak jauh bisa fatal akibatnya. Untuk itu perlu disiapkan interlock-nya atau sistem lock-nya sekalian.
      – Keamanan akan alat (maintenance): Jangan sampai peralatan off akibat ada trouble (overload misalnya), tapi karena ada fasilitas reset jarak jauh (remote) dan on jarak jauh, operator main reset & on saja pakai sms. Ini tidak dikehendaki. Disain yang benar, reset sebaiknya manual/local. Dilakukan setelah dilakukan pengecekan terlebih dahulu. Setelah yakin aman, barulah lock dilepas, fungsi permissive interlock difungsikan dan silakan dilakukan remote on dengan MMI/HMI, sms, atau apapun mode remote yang dikehendaki.

      Jadi kembali lagi, bukan masalah bisa on/off pakai sms atau tidak tapi bagaimana kebutuhan operasi, maintenance, safety, dll dari fungsi dan lingkungan peralatan tersebut.

      So, kalau Bro vario125 bilang ditempatnya gak bisa on/off pakai sms dan mesti repot input, setting, dll belum tentu karena lebih low tech.
      Mungkin saja karena tuntutan operasi, maintenance, & safety yang tidak membolehkan dilakukannya on/off menggunakan sms.

  17. maskojun berkata:

    yg jelas membuat simlpe n reduce cost. tapi menurut ane malah mengorbankankan qualitynya yg harusnya lbh penting dari cost atopun velocity.
    ane malah menyebut ini bukan penyempurnaan, malah lebih ke downgrade dari step 3.
    ga mau bandingin merk2 tetangga yg emang sistem injeksinya lbh user friendly ( ga ribet)…

  18. kalo Yamaha pasti downgrade nih, pasti karena mau bangkrut jadi sensor dikurangin.
    kalo Honda mah bukan karena mw bangkrut atau cost down tapi jadi simplified.
    gak percaya? liat aja MS nya… kalo jelek gak mungkin laku kan?
    :lol:

  19. arick berkata:

    ane ngerti kenapa dinamain step 4…karena sisa sensornya cuman 4 wkwkwkwkw
    kabuuuuurrrrrrrrrrrrrr………..ke pelukan asmirandah……………….

  20. Kevin Leonhard berkata:

    mahal dibilang kemahalan, overprice
    murah dibilang murahan

  21. maskojun berkata:

    kadang sesama enginering berbeda pendapat untuk membuat konsep suatu produk dg sgala konsekuensinya. kalo ane dari dulu kurang setuju dg reduce cost yg ngorbanin safety or quality.
    apa daya kalah power ama atasan…
    kenyataannya sering cost lbh diutamakan dari safety, quality, ama velocity…

  22. pr berkata:

    wah ada bagusnya juga Pa RT klo diketinggian cm 60km/jam, biar safety, biasanya klo di puncak banyak jalan berkelok2 jd g sruntulan spt motogp :) bisa menikmati pemandangan dan lebih berhati2

    bagaimanapun juga masing2 ada kelebihan dan kekurangan, mari sambut masa injeksi dg tgn terbuka, biar mengurangi bbm dan ramah lingkungan

  23. kankkunk berkata:

    “Cost Reduction”
    ^ setuju kata-kata itu..inget dulu awal keluar supra injeksi taun 2005, beda harganya > 1 juta..lha waktu itu supra 125 cw karbu harganya sama dengan supra 125 sw injeksi, padahal kalo nggak salah jarak harga cw dan sw 1,3 jutaan..sekarang harganya jarak berapa?wajar lah mesti ada yang dikurangi kalo harga bisa tereduksi.. :)

  24. vario125 berkata:

    jadi penasaran sama vario 125 versi thailand (click 125)..?? sensornya banyak gak ya..??

  25. bdt berkata:

    kalau RT tidak salah mengartikan settingan ini akan berubah jika selisih dari tempat asal ±2.000m … artinya perlu ubahan setting jika mau naik gunung saja…
    —————————————————————-
    artinya pembacaan sensor tsb rangenya kelipatan 2000 m

    2000, 4000, 8000. 10000. dst, maks 20.000 m misal

    jika kita berada di ketinggian 22.000 m, maka sensor tsb tdk bisa membaca dan akan error.

    maka harus di set ulang lagi programmnya, itupun dgn catatan sensor tsb bisa membaca sampai range 22.000 ke atas

  26. embuh berkata:

    ruwet …. qiqiqiqi

    *ojek pakai motor karbu ….

  27. thole berkata:

    jelas alasan pertama, utk menekan harga,
    alasan kedua untuk meminimalkan resiko kegagalan sistem, (minim sensor otomatis resiko kegagalan sistem kecil)
    dan berefek pada, kemudahan perawatan, lha minim sensor! setting rpm aja pake obeng, seandainya iddle mesin gak stabil, gak akan terjadi kegagalan sistem yg perlu di diagnosa, reset, & stel ulang

    cukup diputer pake obeng, jadi,

    resiko minim sensor? pikir sendiri lah wkwkwk :lol:

    • maskojun berkata:

      teorinya betul bro. kenyataannya vario ane dah bolak-balik bengkel tuh motor…

    • ben piss berkata:

      thole: “…minim sensor otomatis resiko kegagalan sistem kecil..”
      ====================================================

      Wah…gw gak setuju dengan pandangan tsb Bro :)
      Sensor itu komponen elektronik yang dikemas dengan baik dan rapat, terlindung dari udara, air, dan idealnya juga dari suhu yang ekstrim.
      Ekstrim artinya jauh diluar kemampuan kerjanya.
      Kalau syarat-syarat tersebut terpenuhi, sensor-sensor seharusnya free maintenance & free error sampai batas umur kerjanya tercapai. Istilahnya run to failure.
      Ingat, sensor bukan komponen bergerak yang bisa terpapar gaya gesek sehingga bisa aus.

      Sensor berfungsi sebagai “mata-mata”/”intel”/”informan”/”wartawan” bagi ECU/ECM.
      Data-data dari sensor lah yang dipakai ECU/ECM untuk mengontrol mesin agar bekerja optimal.
      Kalau sensor-sensor dikurangi, ECU/ECM akan berkurang juga bahan analisanya.
      Ibarat manusia kehilangan salah satu inderanya.
      Sehingga yang benar adalah minim sensor otomatis resiko kegagalan sistem akan makin besar.
      Jadi bukan berbanding lurus, tapi berbanding terbalik.

      Untuk mengakalinya, algoritma di ECU yang diakali dengan membuat aproximasi ataupun asumsi untuk mewakili sensor yang dihilangkan tersebut dengan membaca hasil sensor yang tersisa.

      Misalnya, hilangnya MAP & IAT.
      Terpaksa ECU/ECM akan berasumsi saja terhadap data udara yang sedianya disupply oleh MAP & IAT.
      Asumsi diambil ECU/ECM dengan melihat data dari TPS & CKP.
      Dan asumsi yang bisa diambil hanya volume udara saja yang bisa dianggap akurat
      Tapi temperature, pressure, flow, & kepadatan udara tidak bisa diwakilkan oleh kedua sensor tersebut.
      Ibarat manusia yang kehilangan indera pendengarannya.
      Dia bisa belajar apa yang diucapkan orang lain dengan membaca gerak bibir orang lain, tapi jika ditegur dari belakang tentu saja tidak bisa “mendengar” lagi.
      Atau orang buta bisa “membaca” dengan memanfaatkan jarinya pada huruf braille, tapi tidak bisa “membaca” sign marka jalan.
      Jadi sifatnya benar-benar open loop untuk bagian ini.
      Setelah campuran bbm dibakar, jika sensor O2 membaca kandungan oksigen gas buang diluar batasan yang wajar, algoritma ECU/ECM akan mengasumsikan ada yang tidak ideal terhadap tekanan, flow, kepadatan & temperatur udara.
      Disebut asumsi karena ECU/ECM tidak punya tools untuk “membacanya”.
      Data yang diperoleh ECU/ECM hanyalah volume udara (dari kalkulasi TPS, CKP, & diameter throttle body).
      Langkah selanjutnya ECU/ECM akan mengatur semprotan injektor sampai diperoleh kandungan oksigen yang wajar dalam gas buang.
      Cara kerja ini tidak ideal.
      Ibaratnya tunggu ada error dulu baru diperbaiki.

      Idealnya, sebelum ECU/ECM memutuskan volume bbm yang disemprotkan ke ruang bakar, ECU/ECM membaca dulu posisi bukaan throttle, pressure, temperature, kepadatan, flow & volume udara yang masuk.
      Dari data udara & TPS, ECM/ECU akan mengatur fuel pressure regulator & injector agar dicapai tekanan & volume bbm yang ideal terhadap udara.
      Sedangkan kapan idealnya campuran bbm diledakkan dalam ruang bakar, ECU/ECM akan mengambil data dari CKP, CMP, temperatur mesin/oli mesin, & rpm mesin.
      Setelah itu ECU/ECM akan melakukan cross check “keberhasilannya” dengan melihat data dari O2 sensor, knocking sensor, & juga temperatur mesin/oli mesin.
      Kalau hasil sensor ternyata tidak ideal, ECU/ECM akan mengatur kembali bukaan idle air control (IAC) valve (kalau dalam keadaan stasioner), pressure bbm, injector, & waktu penyalaan busi.
      Kurang lebih begitulah prinsip mendasarnya sistem injeksi yang cerdas.
      Ada beberapa sensor lain tapi sifatnya sekunder dan umumnya dipakai pada mobil-mobil mahal yang hi-tech.

      Kalau sistem cerdas tersebut full diterapkan ke sepeda motor tentu sulit diperoleh harga ekonomisnya.
      Sehingga pabrikan sepeda motor akan mencari solusi cerdas agar teknolog injeksi yang ditawarkannya cukup cerdas dengan harga yang tetap bersahabat.

      Langkah apa yang diterapkan Honda, Yamaha, & Suzuki?
      Mana yang lebih cerdas?
      Tidak usahlah berpanjang lebar.
      Rekan-rekan sudah rasakan dan komentari sendiri hasilnya…. :)

  28. thole berkata:

    makanya si honpret koar2, sistem fi nya canggih minim perawatan wkwk :lol:

    • bdt berkata:

      om bukannya yg namanya injeksion minim perawatan??? kalu banyak perawatan yach karbu dong namanya.

      paling yg dirawat khan sensornya aja, biar ngak kotor

  29. bdt berkata:

    yavh kalu setting injeksi mah, bukan masuk perawatan, tapi penyesuaian

  30. beat ngebul berkata:

    hehe… padahal kl di dataran tinggi sm rendah tekanan udara beda, kenapa ya MAP malah dihilangin, padahal fungsinya kan buat ngukur tekanan udara… aneh nih ahem. Trs IAT jg dihilangin. Atau ahem khusus jual wtf bt pemakaian di dataran rendah aja & pada suhu tertentu. Mboh wis, ngelu mikir…
    Mending ndelok asmirandah… :D

  31. frontdiskbrake berkata:

    kalau RT tidak salah mengartikan settingan ini akan berubah jika selisih dari tempat asal ±2.000m.
    … artinya perlu ubahan setting jika mau naik gunung saja…

    ================================
    imho
    kenapa parameternya pada 2000m?
    honda sepertinya lupa dg hukum gradien geothermis, yaitu semakin tinggi (tiap kenaikan 1.000 meter) suatu tempat di permukaan Bumi, temperatur udaranya akan turun rata-rata sekitar 6°C di daerah sekitar khatulistiwa.
    Dan tiap daerah di indonesia punya variasi suhu rata rata yg berbeda beda.

  32. frontdiskbrake berkata:

    mahal dibilang overprice
    murah malah banyak masalah, akhirnya justru keluar uang lebih banyak

  33. hardiasbantuly berkata:

    waah ra mudeng injeksi… dadi manut ae lagh…. :mrgreen:
    neeeegh…. 10 modifikasi yamaha scorpio paling juoooos…

  34. Ghuno berkata:

    Oo… begitu toh… hmm… repot jg y klo gt… y wez lah gak ngurus jg ane, mending beli yg mahal tp jelas, hehehe… :P

  35. Gogo berkata:

    intinya ngirit biaya..

  36. SuRyA berkata:

    Ikut menyimak aja pak rt

    http://www.dk8000.co.nr

  37. akang berkata:

    cost reduction… Kenapa di NEX ada TOS di beat kok tdk ad… Apakah cost reduction…

  38. maskojun berkata:

    pak RT kebagian yg sehat… kalo motor ane terima yg full fitur (ngorok, ndut-ndutan, suara tektektek kasar, ama meter bensin eror, kumplit dah). nasib…

  39. Tello berkata:

    vario 125 keluaran terbaru msh bermasalah gak pak RT ?

  40. satria biru berkata:

    busyet lama-lama klo beli motor canggih selain dapet helm ma jaket ditambah CD software juga ya

  41. frontdiskbrake berkata:

    piye iki pak rt? Yang mikir sampe kepala botak koq malah konsumen, pihak pabrik sepertinya malah diam saja, dan terus produksi motor yg nyata nyata bermasalah.
    Apakah karna konsumen indonesia rata rata pada nrimo karna tak tau mau apa dan harus bagaimana?

  42. cah bagus berkata:

    mau punya system injeksi yg stabil pak RT, tunggu setahun lagi. sekarang masih versi beta nih, masih ada sedikit bug. tapi santai aja, upgrade versi beta ke versi stabil cuma dg colok kabel dan tekan enter.
    #bukan programmer tapi sok tau.

  43. jaos_konsumen biasa berkata:

    jadi fbhonprett aja PASTI vario WTF nya gak bermasalah……….

  44. hohehoheho berkata:

    tenang bro2 para pemilik vartech 125 ntar ada penggantian busi gratis lg,sesuai spek vartech 125 yg butuh busi lebih dingin,nd u 27 ama ngk cpr 9,so masalh busi ga sesuai bisa teratasi,klo yg ga punya ya jgn repot ya,..

  45. jangantanya berkata:

    Kl gasalah ini settingan yg pake handle gas trs kedipan MIL nih ada alatnya buat si ECM berubah setting betuknya kotak dan lubangnya banyak bisa ngcek semua yg ada di motor kl ga salah. Jd ketika sensor udh dihubungkan sama alat kunci kontak posisi ON nanti MIL akan berkedip cepat nah pertama buka tutup handle gas selama 0.5 detik kalo sudah masukan setting yg dimau misalkan setting 4 buka handle gas 4 kali trs tunggu sampe MILnya berkedip normal baru dicoba itu settingan 4 kalo yg 1 gausah buka handle gas lg begitu kalo gasalah baca

  46. thole berkata:

    filosofi Fuel Injection free maintenance emang betul, tapi itu kan dulu sebelum purna jual tekno fi se maju&se komplit sekarang, tp masih dipake honpret sampe sekarang

    beda dgn yamaho yg sedikit lbh maju, sebetulnya ndak perlu diagnosa selama tdk ada sistem error,
    tapi disini yamaho menjadikan general check up sebagai standar baru menjadi standar baku utk melayani perawatan mesin Fi, ada treathment merawat injektor, TB, dkk

    fungsi software DT yg terinstall pd pc desktop/laptop juga tdk sembarangan, selain mendiagnosa sistem, juga digunakan utk melakukan general check up, seperti mengukur akurasi injektor, melakukan cek sensor kruk as, sensor bukaan gas, sensor o2, dkk

    tujuannya ya jelas utk memastikan semua komponen normal,

    • bdt berkata:

      lebih majunya dimana, bisa dijelaskan/

      general check up standard baru?????

      loh itu khan dah prosedur standar maintenance suatu mesin/alat, ngak ymii aja

      • benar,
        tapi sepertinya di YIMM itu ada jadwal check up. temen ane juga pake Revo AT, udah 1 tahun belom cek injektor. ane tanya ke dia juga katanya gak perlu dicek. padahal kita gak tau, apakah ada anomali pada sistem? bisa jadi sistem berjalan normal tapi di log viewer siapa tau ada warning dan error.

        cmiiw

      • bdt berkata:

        roy.
        yach itu tadi, setiap alat, katakanlah sensor, khan punya prosedur pengecekan yg berbeda tergantung pabrikan pembuatnya.

        tapi yg umum, yg namanya sensor, itu harus dirawat, jangan sampai tertutupi debu, kalu kotor, pembacannya jadi ngak bagus, kalu dah begitu pasti ngadat tuh motor, karena sensor jadi tdk bisa membaca.

        ini prosedur berlaku u/ semua jenis sensor, apapun sensornya dan apapun jenis yg diukurnya

        perawatan sensor juga tergantung lokasi sensor tsb dan kondisi di sekitarnya

        sya tdk tahu posisi sensor motor yamaha dimana dan motor honda dimana.

      • maksud thole itu ada pengecekan periodik, untuk mencegah2 hal tidak di inginkan. misalnya 1 tahun sekali.

        kalo gak ada seperti gimana injektor ada? pada kasus temang yang pakai AT, katanya gak perlu cek injeksi.
        ;)

      • bdt berkata:

        roy.

        kalu pabrikan dah menjamin, no problem, kecuali ada hal yg sangat -sangat di luar perkiraan, tapi jarang sekali yach, spt revo at.

        kalu memang pabrikan menyarankan service injeksi tiap 5 thn sekali misal? buat apa 1 tahun sekali,

        apakah motor teman ente ngak diservice 1 thn sekali, jadi bermasalah?

        pertanyaan saya? apakah system pengecekan injeksi suzuki tdk canggih?
        setiap system pasti punya alat u/ mengecek kondisi system tsb, failure/tdk.

        dan namya injeksi pasti pake ECU, dan semua canggih

      • aduh om bdt

        ini software dan hardware, meskipun secara peraturan tertulis tarolah 5 taon, apa gak mungkin sebuah sistem error dalam tempo 1-2 tahun? kita berbicara fakta aja deh…

        jika 5 tahun sekali lebih baik bukannya untuk cek ecu bisa dilakukan berkala untuk mencegah sistem error? jika sistem sudah error apa yang akan terjadi? menginstall ulang ecu nya? ganti ecu nya?

        sebaiknya memang ada cek berkala untuk ecu dan injektor nya.
        untuk sensor sendiri, setidaknya gw pernah di industri manufaktur, elektronik khususnya. memang untuk general check up dilakukan berkala. meskipun demikian bukan berarti mesin SMT akan berjalan normal, pun dia berjalan normal bukan berarti mounting nya pas. sistem sih berjalan normal, mounting normal tapi tidak sempurna. hanya akan terlihat bila kita cek di log viewer mesinnya.
        ;)

  47. EISCELL berkata:

    biar murah…cuma nambag 250rb dpt injeksi

  48. thole berkata:

    @bdt
    ya,namanya sensor itu posisinya ya aman, bebas debu, kecuali bentuk fisiknya memang kelihatan!
    socket nya kotor kena debu, baru masuk akal, bukan sensor kena debu

  49. thole berkata:

    general check up service motor itu meliputi, cek ketegangan rantai, cek gerak bebas kemudi, cek lampu, cek saklar, cek kampas rem, dkk

    general check up komponen motor berteknologi injeksi masih jarang, bahkan vixion aja blm pake general check up injeksi, hanya diagnostic system,

    beda dgn yamaha skrg ini, dgn bantuan media pc & software DT, general check up mesin fi bisa dikerjakan secara komputerisasi,
    semisal cek sensor kruk as, software akan meminta ON kan kontak, starter mesin, software akan mengecheck sensor kruk as bekerja normal/tidak, klo normal maka software tadi menghasilkan output berupa data, bahwa sensor kruk as keadaan VALUE “OK”
    begitu juga check sensor bukaan gas, VALUE “OK”
    seandainya ada yg tdk normal, VALUE gak keluar, nah ini lebih detail & maju kan? :mrgreen:

    • thole berkata:

      bahkan data bisa disimpan & print out langsung, sebagai data riwayat kendaraan bermotor!

    • bdt berkata:

      begitu juga check sensor bukaan gas, VALUE “OK”
      seandainya ada yg tdk normal, VALUE gak keluar, nah ini lebih detail & maju kan?
      —————————————————————————-
      u system controllor, hal itu dah lumrah, dan itu fungsinya software khan? mengecek semua kondisi alat/sensor sesuai tdk dgn data yg diprogram di ECU ,,
      jika di diagnosis nilainya masih dalam range program ECU, pasti oke
      jika nilai hasil diagnosis melebihi atau lurang dari yg diprogram di ECU, pasti tdk oke

      simple khan

  50. penggemar ninja berkata:

    Untuk injeksi versi 4 Honda(step4) Honda Supra X 125 PGM-FI, Spacy Helm In PGM-FI dan Vario Techno 125 PGM-FI…sensor MAP dan sensor suhu ini dihilangkan dan digantikan dengan Crankshaft Position (CKP) dan O2 Sensor( menurut teknisinya fungsinya bisa digantikan)

    kok digantikan..? wong step 3 juga ada kok..? itu namanya pengurangan bukan penggantian.:D

    Piss

  51. sanji0ne berkata:

    tidak tahu kalau soal teknis, ijin menyimak saja

  52. koplakkkkkk berkata:

    di motogp aja setingan mesin pake laptop…………..lebih canggih mana hayoooooo

  53. ben piss berkata:

    thole: “…minim sensor otomatis resiko kegagalan sistem kecil..”
    ====================================================

    Wah…gw gak setuju dengan pandangan tsb Bro :)
    Sensor itu komponen elektronik yang dikemas dengan baik dan rapat, terlindung dari udara, air, dan idealnya juga dari suhu yang ekstrim.
    Ekstrim artinya jauh diluar kemampuan kerjanya.
    Kalau syarat-syarat tersebut terpenuhi, sensor-sensor seharusnya free maintenance & free error sampai batas umur kerjanya tercapai. Istilahnya run to failure.
    Ingat, sensor bukan komponen bergerak yang bisa terpapar gaya gesek sehingga bisa aus.

    Sensor berfungsi sebagai “mata-mata”/”intel”/”informan”/”wartawan” bagi ECU/ECM.
    Data-data dari sensor lah yang dipakai ECU/ECM untuk mengontrol mesin agar bekerja optimal.
    Kalau sensor-sensor dikurangi, ECU/ECM akan berkurang juga bahan analisanya.
    Ibarat manusia kehilangan salah satu inderanya.
    Sehingga yang benar adalah minim sensor otomatis resiko kegagalan sistem akan makin besar.
    Jadi bukan berbanding lurus, tapi berbanding terbalik.

    Untuk mengakalinya, algoritma di ECU yang diakali dengan membuat aproximasi ataupun asumsi untuk mewakili sensor yang dihilangkan tersebut dengan membaca hasil sensor yang tersisa.

    Misalnya, hilangnya MAP & IAT.
    Terpaksa ECU/ECM akan berasumsi saja terhadap data udara yang sedianya disupply oleh MAP & IAT.
    Asumsi diambil ECU/ECM dengan melihat data dari TPS & CKP.
    Dan asumsi yang bisa diambil hanya volume udara saja yang bisa dianggap akurat
    Tapi temperature, pressure, flow, & kepadatan udara tidak bisa diwakilkan oleh kedua sensor tersebut.
    Ibarat manusia yang kehilangan indera pendengarannya.
    Dia bisa belajar apa yang diucapkan orang lain dengan membaca gerak bibir orang lain, tapi jika ditegur dari belakang tentu saja tidak bisa “mendengar” lagi.
    Atau orang buta bisa “membaca” dengan memanfaatkan jarinya pada huruf braille, tapi tidak bisa “membaca” sign marka jalan.
    Jadi sifatnya benar-benar open loop untuk bagian ini.
    Setelah campuran bbm dibakar, jika sensor O2 membaca kandungan oksigen gas buang diluar batasan yang wajar, algoritma ECU/ECM akan mengasumsikan ada yang tidak ideal terhadap tekanan, flow, kepadatan & temperatur udara.
    Disebut asumsi karena ECU/ECM tidak punya tools untuk “membacanya”.
    Data yang diperoleh ECU/ECM hanyalah volume udara (dari kalkulasi TPS, CKP, & diameter throttle body).
    Langkah selanjutnya ECU/ECM akan mengatur semprotan injektor sampai diperoleh kandungan oksigen yang wajar dalam gas buang.
    Cara kerja ini tidak ideal.
    Ibaratnya tunggu ada error dulu baru diperbaiki.

    Idealnya, sebelum ECU/ECM memutuskan volume bbm yang disemprotkan ke ruang bakar, ECU/ECM membaca dulu posisi bukaan throttle, pressure, temperature, kepadatan, flow & volume udara yang masuk.
    Dari data udara & TPS, ECM/ECU akan mengatur fuel pressure regulator & injector agar dicapai tekanan & volume bbm yang ideal terhadap udara.
    Sedangkan kapan idealnya campuran bbm diledakkan dalam ruang bakar, ECU/ECM akan mengambil data dari CKP, CMP, temperatur mesin/oli mesin, & rpm mesin.
    Setelah itu ECU/ECM akan melakukan cross check “keberhasilannya” dengan melihat data dari O2 sensor, knocking sensor, & juga temperatur mesin/oli mesin.
    Kalau hasil sensor ternyata tidak ideal, ECU/ECM akan mengatur kembali bukaan idle air control (IAC) valve (kalau dalam keadaan stasioner), pressure bbm, injector, & waktu penyalaan busi.
    Kurang lebih begitulah prinsip mendasarnya sistem injeksi yang cerdas.
    Ada beberapa sensor lain tapi sifatnya sekunder dan umumnya dipakai pada mobil-mobil mahal yang hi-tech.

    Kalau sistem cerdas tersebut full diterapkan ke sepeda motor tentu sulit diperoleh harga ekonomisnya.
    Sehingga pabrikan sepeda motor akan mencari solusi cerdas agar teknolog injeksi yang ditawarkannya cukup cerdas dengan harga yang tetap bersahabat.

    Langkah apa yang diterapkan Honda, Yamaha, & Suzuki?
    Mana yang lebih cerdas?
    Tidak usahlah berpanjang lebar.
    Rekan-rekan sudah rasakan dan komentari sendiri hasilnya…. :)

  54. duel berkata:

    saya sangat gak stuju kalo alat setting ecu fi cuma utk mekanik resmi aja.brarti bngkel umum gak di hargai.padahal bengkel umum banyak berjasa pada konsumen di banding AHASS.hingga k pelosok yg gak ada AHASS bengkel umum yg melayani konsumen honda.kalo gitu produksi injeksi gak usah di perbanyak.banyak konsumen honda injeksi yg mengeluh karna bgkel umum gak mau melayani nya.

  55. sobirul berkata:

    numpan nimbrung…
    sy pnya supra125 injeksi thn 200
    semingguan ini kok g bs langsam alias klo gas d lepas mesin mati….
    ad yang ngerti g gan d apain biar normal…
    dr honda g ad hasil…

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s