Terus gue harus bilang “WOW” gitu??

Banyak orang Indonesia yang pindah ke Malaysia dan membina keluarga di sana, tapi tetap mewariskan aneka budaya dan kebiasaannya hingga ratusan tahun…seperti kesenian reog,tari tortor dan alat musik Gordang Sambilan yang di Malaysia mungkin mereka hidupkan dan lestarikan… dan mereka meminta Malaysia untuk mendaftarkan budaya itu ke dunia internasional… memang di malaysia banyak suku-suku yang sama dengan suku di Indonesia… Tapi kalau dikemudian hari lambat-laun..pelan-pelan kita tau-tau itu jadi milik Malaysia ya … trus gimana…? apa namananya itu…? asal-usul yang kabur..atau dikaburkan…?? trus apa kita hanya bisa bilang “wow”….???

Apa yang bisa kita lakukan untuk masalah ini… Kalau kita sebagai orang yang sering berselancar dengan ikut mempopulerkan istilah kesenian dan meninggalkan jejak bahwa sebuah kesenian A adalah asli dari Indonesia maka dunia akan tau bahwasanya budaya itu asalnya dari negeri kita…atau ikut memantau di internet jika ada negara yang klaim budaya kita..laporin pak RT..kita bakar rame-rame :mrgreen:

Sebetulnya budaya itu bisa kita “peluk erat” jika disekolah-sekolah tiap daerah dimasukkan dalam kurikulum atau kegiatan ekstra sehingga bisa menjaga generasi muda akan tetap ingat dan merasa memiliki… atau mengadakan event besar pesta budaya tingkat nasional sehingga keberadaan budaya itu “bergema” hingga seluruh pelosok negeri..dibantu publikasi media terutama blogger … jangan hanya bilang wow saja :D

Atau ada ide lain bro…???

About these ads

Tentang ridertua

KeepBrotherhood & Peace
Catatan ini telah ditulis dalam diskusi, Inspirasi dan di-tag dengan , , . Penunjuk permalink.

33 Respon untuk Terus gue harus bilang “WOW” gitu??

  1. nugroho berkata:

    joss gajul malaysia hehe

  2. icaqnpritha berkata:

    dikasih tau aja enggak…gemana anak2 kenal budaya bangsa sendiri. kasian…

    • joko berkata:

      ya inisiatif cari tau sendiri doong, sama halnya nonton video b*k*p, gak ada yg ngasih tau tapi pasti ada inisiatif nyari filenya ke teman, hahaha

  3. kenunk berkata:

    Iyuuukhh..

  4. Yudha Depp berkata:

    SETUJUUUU······ TAPI JANGAN LUPA WAWASAN NASIONAL
    JUGA HARUS DITINGKATKAN. BTW MALAYSIA BERBATASAN DENGAN
    PROVINSI SAYA. TOURING KE PERBATASAN [ENTEKONG-KALBAR]
    BAREEENG YUUUUUK
    http://yudhadepp.blogspot.com/2012/07/motor-butut-keren-juga.html?m=1
    http://yudhadepp.blogspot.com/2012/07/motor-khusus-orang-dewasa.html?m=1

  5. Octa Mx berkata:

    pelaksanaan budaya dulu ma skarang beda ato ntah dibedakan.
    ~dulu waktu saya SD, saya tau para menteri kabinetnya. yg mungkin saat ini pun saya ingat.
    +skarang, jangankan murid SD, mungkin gurunyapun tak tau pasti nama” menteri terkini.

    ~waktu saya dapat kesempatan skolah TK, yg saya tau saat itu disekolah hanya tempat bermain, jalan” keluar halaman skolah, makan bubur bareng.
    +skarang, anak TK dah di “paksa” pegang alat tulis, pengenalan angka dan huruf yg intinya dapat membaca. wow, saya dulu mulai blajar baca lancar di kelas 2 SD.

    ~dulu waktu SMP SMA, kalo pengen ngisap roko pastinya sembunyi” menghindar ma orang dewasa. belinyapun ngeteng
    +sekarang, SMP SMA dah merdeka pegang roko. beli tanpa sungkan dan malu beli roko sbungkus. dimeja tongkrongannya pun, turut hadir berbungkus bungkus roko. plus barisan motor mereka yg trparkir.

    kalo jaman kuliah dulu ama skarang saya rasa mirip, cuma jumlah semester/sks yg kena korting.

    Terjadi pergeseran/perubahan budaya Pak, mnurut saya itu intinya.

  6. fresh and fresh berkata:

    selain budaya, berbagai bahasa harus dijadikan kurikulum pak RT, biar murid-murid pinter dan kelak berani bergaul ke luar negeri..

  7. sinbe berkata:

    Sekarang endonesa malah latah ikutan gaya korea koreaan. Mending patenkan aja tuh K-POP ama pemerintah. :mrgreen:

  8. baco berkata:

    Kira kira kalau orang batak,jawa,sunda,dll yg tinggal di males daftarkan budaya suku masing2 gimana??apakah kita harus bilang ke mereka anda tdk nasionalis??bagaimana kalau mereka disana bilang, di negara sendiri aja tdk perhatikan,,,jadi kira kira siapa yg salah??

  9. absoluterevo berkata:

    Paktor pertama adalah hilangkan HAM dengan adanya HAM negara kita berantakan, waktu jaman sekolah saya kalau melangar ya kena cepret pak guru bu guru karena kitanya tidak di siplin wah jaman sekarang orang tua murid baru anaknya di jijir juga sudah lapor polisi :evil: kapan mau di siplin kalau masih di bela ortu. Jaman dulu malah kita takut di laporin pak guru bu guru sama orang tua jaman sekarang sudah kebalik :lol:

  10. absoluterevo berkata:

    Gamelan kesenian negara kita banyak yg di pelajari sama orang luar negri malah kebalik jaman sekarang wow wowowowoowowo teman kerja saya yg orang inggris gila pinter bahasa sundanya sama mainin kecapi rebab angklung eh kita orang asli sunda malah tidak tau :oops:

  11. absoluterevo berkata:

    Saya masih bisa bermimpi kapan negara kita punya pemimpin kaya presiden iran ahmad dinijadya :D mudah-mudahhan di taun 2014 kita punya amin.

  12. irfannabag berkata:

    anak anak sekarang lebih tertarik maen ps dr pada kesenian daerah #miris

  13. simu berkata:

    wow, gue baru tahu k’lo kita punya tarian yang punya judul tor-tor.
    kalo narinya kaya’ apa gue blum pernah liat dan gak pengen liat (sambil bayangin ibu2 pada nari2 pake pakaian tradisional, wow gitu loh).

  14. fa74 berkata:

    Biarin aja budaya d pelihara oleh yg mau memeliharanya dgn baik. Klo kita cinta budaya kita, pasti kita rela budaya kita jatuh ke tangan yg benar2 mau memeliharanya. Setuju :-P

    Bakarrrr…..

  15. nay berkata:

    Kalo menurut gw…pergeseran kebudayaan jelas2 terlihat banget…salah satu faktor bergesernya adalah ‘UANG’…banyak berprinsip…apabila kita belajar mendalami salah satu budaya kita secara serius…nanti istri & anak mau dikasih makan apa?…karena jelas2 apabila kita serius mendalami budaya tersebut otomatis waktu kita banyak tersedot kesitu dan urusan perut terbengkalai…makanya banyak penduduk Indonesia enggan mempelajarinya bukan karena tidak cinta…tapi karena yaaa itu tadi…

  16. Bakul kangkung berkata:

    Menurut saya, itu juga akal2an pemerintah negara tetangga, mereka mau mengakui kesenian tsb dg syarat di patenkan dulu sbg produk seni mereka..,buah simalakama.. :evil:

  17. Redribbon Army berkata:

    ini ide salah satu cara lho pak Rt… di solo hiduplah seorang pemimpin yang bijaksana… dia mewajibkan seluruh pegawai negri pada hari kamis diharuskan memakai pakaian kebaya… bajunya pun di anggarkan negara biar tiap orang bangga akan kebayanya, lalu mewajibkan seluruh pagar gedung dijalan utama yang menjulang tinggi 2 seperti benteng Itu yang membuat orang sama tetangganya gak saling rukun dan kenal serta individual… dirobohkan… dan diganti dengan pohon penghijauan… biar asri seperti jaman dulu.. seandainya orang seperti Itu yang jadi pemimpin kita.. kira 2 apa yaaaaa yang terjadi dengan negara kita?

  18. whitesmilee berkata:

    loeeeeeeeeeeee… gueeeeeeeeeeee…. end wkwkwkwkwkw :mrgreen:

    *ngakak klo ingat sule yang bilang gini mbah :lol:

  19. Novian Agung berkata:

    Budaya tradisional itu tidak penting, kampungan. Mending turut budaya modern seperti seks bebas, kumpul kebo, liberalisasi, dsb…

  20. Cah Nglegok berkata:

    wooow….
    awal munculnya reog disinyalir karena banyaknya TKI dari Jatim…
    begitupun tari Tor tor kono disinyalir juga karena TKI dari daerah sono juga banyaak…

    ternyata TKI membawa misi penyebaran budaya Indonesia kok…makin dikenal Malaysia kalo makin banyak TKI yang berada disana…

    *baik kan???

    he he

  21. orderdesign berkata:

    Ide pak RT komplit dan bagus banget semoga mendapat respon dari pemerintah dan akan segera diselenggarakan. http://orderdesign.wordpress.com

  22. ms berkata:

    melestarikan atau menghidupkan budaya yang dibawadari negeri asal tidak masalah, asal jangan mengklaim bahwa itu budaya asli mereka apalagi mendaftarkannya ke lembaga internasional.

    sama seperti barongsai yang ada di indonesia, kita tidak mengklaim itu budaya asli indonesia, karena kita semuatau kalau itu budaya yang dibawa oleh keturunan tionghoa.
    yang jadi pertanyaan adalah malaisia hanya membiarkan warganya berbudaya atau mengklaim itu budaya asli mereka dan yang lain palsu?

  23. t36uh25syt berkata:

    Saya rela kalo yang diklaim malaysia atau negara lain adalah budaya korupsi, kolusi, nepotisme… silahkan diklaim dan bawa jauh-jauh dari Indonesia… :-) WOW…

  24. wiwi berkata:

    yo wajar… kita sendiri saja ga bangga dengan budaya sendiri… baru saat budaya kita diulik2 nggrundel.. yah kebanyakan mental orang indonesia memang seperti itu

    http://wawwiwiwaw.blogspot.com/2012/07/fenomena-vixion.html

  25. Gogo berkata:

    harusnya emang Malaysia itu bagian dari Republik..

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s